KEDUDUKAN ANTROPOLOGI SOSIAL DALAM RANGKA ANTROPOLOGI

Ilmu –ilmu bagi antropologi . ilmu antropologi dalam arti luasnya mempelajari mahluk anthropos manusia. Ilmua natropoogi memperhatikan lima masalah  mengenai manusi.

a.     Masalah sejarah terjadinya dan perkembangan manusa sebagai mahluk biologis.
b.    Masalah terjadinya aneka warna manusia dipandang dari sudut cirri-ciri tubuhnya.
c.     Masalah pesebaran dan aneka ragam bahasa
d.    Masalah perbedaan budaya yang ada dalam masyarakat
e.     Masalah dasar kebudayaan dalam masyarakat , dari berbagai suku bangsa yang berbeda.

Disamping itu juga ilmu antropologi juga mengenal juga lima ilmu

a.     Paleo-antropologi:
Adalah ilmu yang mem Etnolunguistikbahas tentang asal-usul terjadi dan perkembangan manusia dengan mempergunakan posil manusia sebagai objek penelitian yang terdapat dalam lapisan bumi .
b.    Antropologi fisik:
Adalah ilmu yang membahas tentang  aneka warna manusia dipadang dari sudut cirri-ciri tubuh dengan memakai sebagai objek penelitian cirri-ciri tubuh baik yang lahir(fenotik) seperti warna kulit warna dan bentuk rambut , tengkorak, bentu muka, warna mata, bentuk hidung, tinggi dan bentuk tubuh.
c.     entnolingustik: ilmu yang mempelajari tentang tulisan
d.    prehisstori:  ilmu yang mempelajari tentang perkembangan dan persebaran kebudayaan manusia dari zaman mula adanya manusia hingga sekarang.
e.     Etnologi: ilmu yang berupaya mencapai pengertian mengenai dasar-dasar kebudayaan manusia, dengan mempelajari kebudayaan-kebudayan dari semenjak mungkin suku-suku bangsa yang tersebar dari seluruh muka bumi ini masa sekarang ini.

SISTEM MATA PENCAHARIAN HIDUP

1. BERBURU DAN MERAMU

Hubungan berburu dan meramu. Berburu dan meramu merupakan dua system mata pencarian hidup yang erat bersangkut paut, suku-susku bangsa yang berburu biasanya juga melakukan pengumpulan terhadap tumbuh-tumbuhan dan akar-akar juga bisa dimakan. Dan juga mereka mencari ikan , yang merupakan suatu system pencarian hidup yang khusus, pada beberapa suku bangsa berburu dilakuakan sebagai tambahan untuk mencari pangan. Demikian dalam ilmu antropologi ketiga system mata pencaharian itu sering juga disebut dengan food gathering economis . meskipun masyarakat berburu tapi merekajuga untuk memenuhi pangan juga termasuk dari perikanan.

Berburu dan meramu merupakan suatu system mata pencahrian yang sejak akhir abad ke-19 mulai menghilang dari muka bumi, padahal pada 990.000 tahun lamanya ialah sejak terjadinya manusia kira-kira 1000.000 tahun yang lalu sampai kira-kira baru 10.000 tahun yang lalu sampai timbulnya pertanian sedikitnya delapan tempat di muka bumi ini. Buru dan berburu merupakan satu-satunya system mata pencaharian hidup manusia. Pada abad ke-19 suku-suku bangsa yang hidup dari meramu hanya tinggal di beberapa tempat yang paling miskin, seperti di hutan rimba tropic di Negara –negara tenga, kamerun dan konggo dimana masih hidup kelompok-kelompok berburu kecil yang termasuk ras bangsa negrito, gurun Kalahari, dimana hidup berburu dan meramu dari suku-suku bangsa yang termasuk ras bushman, kepulauan Adaman; disebelah utara Sumatra , dimana hidup kelompok-kelopk berbur u dan meramu dari suku bangsa Negroid juga. Dan banyak lagi di daerah-daerah belahan dunia,

Pada abad ke-20 banyak suku bangsa yang hidup daera yang tersebut diatas sudah mempunyai bebrapa mata penaharian yang lain,atau sudah menyebar dikota. Bayak dari suku-suku bangsa yang berburu di Siberia timur laut sudah di modernisasilkan oleh pemerintah uni soviet, banyak orang Eskimo di Alaska sudah berkerja sebagai buruh di perusahaan-perusahaan atu di tentara amerika serikat, dan banyak lagi yang lainnya. Sedangkan pada akhir abad ke-19 sudah mulai hidup bertani , atu sudah memburuh di pertambangan dan di industry-industri Amerika serikat. Atu sudah bekerja di perkotaan,dan banyak penduduk pribumi benua Australia juga sudah menjadi buruh diperusahaan orangkulit putih. Sedangkan penduduk peri bumi tsamania sejak pertam abad ke-19 sudah kandas hilang dari muka bumi. Demikian berburu merupakan sebagai suatu mata pencarian hidup sekarang ini hampir hilang dari dunia ini.

Senjata dan teknologi berburu, meramu dan mencari ikan

Bebrapa macam teknik berburu , meramu dan mencari ikan dengan mengabaikan teknik untuk memetik buah atau menangkap ikan secara langsung dengan tangan,:
a. Metode memotong : adalah sangat penting untuk membunuh dan mengupas binatang yang akan dimakan, atau dalam hal mengumpulan buah-buahhan, akar-akaran, biji-bijian dan hasil-hasil dari tumbuhan.
b. Senjata pukul sebagai senjata tertua untuk membunuh hewan buruan. Dalam masrakat meramu terdapat kapak sebagai alat untuk meramu.
c. Senjata lempar. Adalah alat yang amat tua yang digunakan untuk berburuh terhadap hewan yag sulit untuk didekati seperti burung.
d. Senjata tusuk, senjata ini bisa digunakan untuk berburuh dan mencari ikan.
e. Tenaga manusia untuk melampar dan menusuk bisa di perbesar denga tekhnik tertentu.
f. Menagngkap hewan buruan dengan cara membuat alat penjerat,
g. Metode umpan, supaya hewan burun mendekat dan mempermuda untuk menagkapnya. Air tinja adalah sejenis racun untuk menagkap ikan.

2. ASAL MUALA BERCOCOK TANAM

Dal sejarah dikatakan bahwa bercocok tanam timbul setelah sebelumnya mata pencahrian berburu, menurut seorang ahli sejarah kebudayaan verre Gordon childe . bahwa penemuan bercocok tanam itu merupakan suatu peristiwa hebat dalam peruses perkembangan kebudyaan manusia sehingga peristiwa itu di sebut revolusi kebudayaan . rupanya bercocok tanam tidak terjadi sekonyong-koyong , tetapi kepandaian itu timbul dengan berangsur-angsur di berbagai tempat dunia, mungkin bercocok tanam mula-mula dengan aktivitas mempertahankan tumbuh-tumbuhan di tempat-tempat tertentu dari serangan dari binatang atau burung-burung, atu membersihkan tumbuhan-tumbuhan untuk makanan dari tumbuhan yang merusak.

3. BERCOCOK TANAM DI LADANG

Arti bercocok tanam diladang adalah suatu cara bercocok tanam yang berada di hutan tropic , di hutan sabana tropic dan sub-tropik, diantara para sarjana menyebut beberapa kata untuk menamai bercocok tanam ini missal, sifithing cultivation sedang akhir-akhir ini sering dipakai istilah swidden agiculture, istilah itu menggambarkan unsure-unsur yang terpenting dalam tehnik bercocok tanam tersebut. Dengan singkat cara bercocok tanam ini dilakukan sebagai berikut,

a. Suatu daerah dihutan atau di sabana di bersikan (ditebang dan dibakar)
b. Bidang tanah lading yang demikian di buka , ditanami satu sampai lima kali (1-3 tahun )

c. Kemudian lading tadi di diamkan dengan waktu yang lama (10-15 tahun) sehingga menjadi hutan kembali.
d. Sesudah itu hutan bekas ladang tadi dibuka lagi dengan cara-cara seperti biasa begitu seterusnya.
Sekitar alam sebagaian manusia juga hidup bercocok tanam diladang dan hutan rimba tropic memiliki pengetahuan yang luas dan tajam mengenai hutan yang merupakan kawasannya itu. Mereka biasanya memilki suatu system pengelolaan yang teliti mengenai berbagai macam tanah hutan. Dengan mengabaikan berbagai perbedaan penggolongan secara detail banyak suku-suku bangsa yang hidup dari ladang dari membagai hutan sekitarnya, memiliki lim kelompok.

a. Hutan rimba primer.
b. Hut rimba sekundr ialah hutan diatara 12-13 tahun yang terdiri dari pohon-pohon besar dan memiliki pohon belukar dibawah yang tebal.
c. Hutan sekunderr mudah juga umumnya kurang dari 12 tahun memiliki pohon-pohon kecil tetapi memiliki tumbuhan belukar yang tebal.
d. Hutan belukar yang umurnya kira-kira enam bulan dan yang terdiri dari belukar yang tebal dengan beberap pohon yang muda.
e. Padang alang.

Adapun daera hutan juga paling di gemari sebagai daerah untuk membuka lading. Adalah daerah hutan-hutan rimba primer, karna daerah-daerah hutan seruap itu tidak membutuhkan tenaga ekstra untuk membersihkan bawah yang tebal.

Padat penduduk di derah peladangan: cara-cara bercocok tanam itu dilakukan ialah dengan membuka hutan kemudian meninggalkan lading itu lagi sesudah dipakai untuk sekitar 2-3 tahun saja, menyebabkan system itu membutuhkan banyak tanah, sehingga hanya bisa dialakukan hanya di tempat penduduk yang tidak padat. Di setiap Negara bercocok tanam yang dilakukan berbeda-beda angka padat penduduknya, hal itu disebabkan pula banyak factor yang menyebabkan bisa tidak bisanya bercocok tanam di lading di suatu daerah. Hal ini disebabkan misalnya kualitas tanah, jumlah hujan dan topogarfis bumi. Tetapi juga yang paling dominan adalah factor kemasyarakatan.

System milik tanah. Tanah yang digunakan untuk membuat lading belum sepenuhnya hak individu.bada bebrapa Negara yang melakukan bercocok tanam diladang, tanah yang digarap adalah milik umum. Ini berarti tanah di kuasai oleh kelompok-kelompok yang menduduki daerah yang bersangkutan. Tiap-tiap individu dari kelompok tersebut bisa menggunakan tempat tersebut untuk bercocok tanam dan mengambil hasilnya sendiri. Jiak selagi dia menggarap tanah tersebut maka tanah tesebut dibawa kekuasaannya tapi jika ia sudah selesai menggunakn tanah tesebut maka kembali menjadi kekuasaan kelompok. Tetapi di setiap daerah berbeda beda sistim kepemilikan tanah, setelah beberapa waktu berjalan system pemilikan tanah tersebut mengalami perkembangan, karna individu setelah selesai mengarap lading tersebut bisanya mereka menanm kayu-kayu yang berumur panjang sehingga ada kaitan antara dirinya dengan lahan yang ia tinggalkan tadi. Seiring perkembangan penduduk maka lahan menjadi sempit dan tanah menjadi berharaga sengga mengalami krisis, adapun cara penyelesainya bisanya melakukan imigarsi ketempat-tempat tanah yang masi kosong. Atau sebagian merantau mencari penghidupan lain di kota-kota, atu orang akan mengobah cara bercocok tanam yang biasa dari peladangan menjadi menetap dengan pengelolaan tanah dan dengan irigasi.

Pemilihan ladanga. Didalam batasan-batsan tanah yang dikuasai oleh kelompok-kelompoknya petani tidak di berih kebebasan untu memilih tanah yang di sukainya untuk tempat bercocok tanam. Hal ini disebabkan oleh beberapa factor

a. Sudah di dahului oleh orang lain.
b. Pohon-pohon yang berumur panjang yang di tanam oleh orang lain. Meskipun ladang tadi sudah di tinggalkan tetapi pohon yang ditinggalkannya tetap menjadi miliki si penggarap yang awal.
c. Jarakn lading yang terlalu jauh sehingga orang akan banyak kehilangan waktu hanya pulang pergi ke ladang dan kerumah saja.
d. Jenis hutan, hutan yang banyak di gemari adalah hutan primer sebagai tempat bercocok tanam.tetapi hutan primer ini sulit untuk di dapat, sehingga mereka harus puas denga hutan sekunder.
e. Kualitas tanah dan keadaan tanah. Mereka sangat pandai untuk mengetahui kualitas tanah sehingga mereka berusaha untuk mencari kualitas tanah yang cocok untuk bercocock tanam sehingga memperoleh hasil yang lebih baik.

Teknik bercocok tanam diladang . menurut penelitian oleh ahli antropologi di Asiah tenggara lading-ladang yang memiliki luas 1 hektar bisa di kerjakan oleh satu keluarga yang memiliki tenaga 3-5 tenaga individu. Merek menggerjakn pekerjaan menurut kemamppuan yang dia miliki.

a. Pada kira-kirah akhir musim hujan akan dimulai dengan membersihkn belukar bawah oleh para laki-laki maupu wanita, alat yang digunakan berupa golok.
b. Kira-kira satu buan kemudian laki-lai melakukan pekerjaan terberat yaitu menbang pohon-pohon hanya menggunakan sebuah kapak.
c. Tiga bulan kemudian, pada masa musim kering, pohon-pohon dan dedaunan yang sudah jatu ketanah mulai kering para lelaki melakukan pembakaran.
d. Setelah itu biasanya setelah pembakaran membuat gandang agar tanaman tidak di ganggu oleh binatang.
e. Setelah kandang sudah selesai maka mereka melakukan bercocok tanam alat yang digunakan biasanya geruap kayu yang sering disebut tugal atau tongkat yang runcing untuk melobang tanah setelah itu biji padi atau semangka di msukan kedalam lobang tersebut.
f. Setelah menananam selesai bisanya para lelaki melakukan pekerjaan di hutann pengumpulan rotan,dammar dan lain-lain, bisanya juga bernuru atau pun merantau.
g. Setelah empat bulan tibalah waktu panen, bisanyanya para wanita bergembira, mengotong hasil panennya ke rumah dan menimbunya untuk kebutuhan sehari-hari.
h. Setlah panen biasanya mereka berpesta, melakukan pernikahan, sunatan dan ll
i. Bisanya setelah satu kali panen biasanya masi ada dua atau tiga kali lagi panen.
j. Setelah dua atau tiga tahun zat-zat tanah habis orang akan membuka lading baru.

Pengerhan tenaga dalam prodiksi lading. Pada sebagaian besar susku-susku yang mendiami indonesia khususnya dan asia tenggara pada umumnya adalah keluarga batih,yang bisanya terdiri dari suami istri dan anak. Lazimnya di Indonesia yang merupakan kesatuan kerja dalam pro duksi peladangan adalah keluarga luas, keluarga seperti ini biasanya kesatuan erat 2-4 keluarga batih. Yang tingal berdasarkan hubungan saudara sekandung atau hubungan orang tua dengan anak, dengan jumlah warga yang vrsial bisa 10-20 orang.

Ada juga kesatuan yang lain yang menjadi kesatuan kerja yang dasar dalam produksi peladangan, ialah keluarga bathi poligini, ialah keluarga batih yang lebih dari satu istri konsekuensinya juga banyak anak. Kalu dibandingkan dengan keluarga yang monogami. Dan biasanya sistim yang di dapat adalah

a. System saling tolong menolong antara warga-warga sedesa.
b. Sitim minta bantuan warga sedesa dan sekedar kompensasi.
Hasil lading. Bercocok tanam di lading pada sebagian besar dari suku-suku bangsa di Indonesian di daerah hutan rimba tropic, menghasilkan suatu aneka macam hasil yang besar, menurut angka-angka dari tahun 1938 dari seluruh jumlahproduk tersebut 60% diusahakan dari system perladangan. Sedangkan 40% lainya di usahakan oleh kira-kira 750 perkebunan. Dipandang dari sudut luas tanah, lading karet rakyat kira-kira di seluruh indonesia meliputi hampir 13000.000 hektar sedangkan perkebunan karet hanya meliputi 500.000 hetar tanah.

4. BERCOCOKM TANAM MENETAP

Disini kita akan membahas bercocok tanam yang menetap yang dilakukan oleh rakyat di dalam masyrakat pedesaan secara local. Dimuka bumi ini bercocok tanam menetap tidak hanya terdapat hanya satu macam sekitar alam seperti cocok tanam diladang, tetapi telah berkembang dimuka bumi diberbagi sekitar alam. Bercocok tanam menetap ada di

a. Daerah tropic, baik yang berada di hutan rimbaseprti di asia tenggara, maupun yang berupa sabana.
b. Di daerah subtropik dengan hutan subtropics seperti didaerah laut tengah , tiongkok, California, dan argentina utara.
c. Daerah setengah dingin , baik dengan iklim laut seperti eropah, maupun yang memiliki iklim continental seperti di daerah hulu sungani besar di asea tenggara dan amerika Utara.

Macam-macam bercocok tanam menetap.

a. Bercocok tanam dengan memajak. Alat yang digunakan adalah hewan untuk membajak.
b. Tampa menggunakan bajak. Biasanya alat yang digunakan adalah cangkul.

Di hampir seluruh penduduk jawa tanah yang ada di pekarangan adalah milik dari individu. Tetapi didaerah lainnya seperti di residen tegal, dan risiden ke dua dan di berbagai tempat yang lain di jawa tanah pertanian adalah jasan, sering sekali antara tana pekulen dan jasan tidak amat terang lagi karna sering tana pekulen diwariskan kepaada keturunannya menurut adat garis yang berlaku kepada anak yang menggantikan kedudukan kuli, demikian misalnya daerah kedua orang desa biasanya tidak bisa lagi membedakan tanah pekulen dan tanah jasan. Ketika mereka ditanyakan keduanya itu sama. Memang kedua tanah tersebut dapat diwariskan tetapi terdapat perbedaan tanah pekulen tidak boleh di jual sedangkan tanh jasan boleh di jual. Adapun bagi para petani yang tidak memiliki tanah maka merka dapat memperoleh tanah dengan jalan, menyewa tanah, bagi hasil, menggadaikan tanah.

Tehnik bercocok tanam menetap.

a. Lebih mengintensitaskan cara pengelolaan tanah.
b. Melakukan perbaikan dengan cara pemupukan tanah.
c. Melakukan pertukaran tanaman.
d. Irigazi.

Orang jawa cara bercocok tanamnya masih amat berpengaruh terhadap penrhitungan lama yang berdasarkan ilmu dudkun yang termasuk dalam buku-buku yang disebut primbon, tanda-tanda yang harus diperhatikan oleh para petani untuk menentukan permulaan mangsa, masa –masa dari tiap-tiap dalam seluruh dari lingkaran tingkat-tingkat pekerjaan dalam hal bercocok tanam dan diuaraikan secara panjang lebar dalam kitap erimbon itu.

Pengerahan tenaga pada bercocok tanam menetap

Masalah tenaga dalam hal bercocok tanam lokalmemiliki cara-cara yang berbeda-beda sekalaih dengan tenaga dalam perusahaan.

a. Pekerjaan dalam bercocok tanam local tidak bersifat terus menerus selama seluruh jangka waktu produksi tergantung kepda irama alam, tergantung kepda perobahan-perobahan musim, jenis tanaman yang berbeda cara pemeliharaannya.
b. Pekerjaan dalam kelompok local tidak membutuhkan pembagian kerja yang khusus, petani tidak hanya ahli dalam satu mata pekerjaan saja tetapi banyak keahlian yang di miliki.
c. Jubungan antara pekerja dan tuan tanah haya bersikap perseorangan, dan tidak seperti dalam perusahaan dan industry yang dimana majikan menganggap bahw abawahan sebagai potensi tenaga yang di perhitungkan secara eksak, lepas dari unsure perseorangan.

SISTEM PERKERABATAN

1. PEMIKIRAN TENTANG MULA DAN PERKEMBANGAN KELUARGA.

a. Teori tentang perkembangan keluarga.

pertengahan abad ke-19 menurut para ahli seperti J. lubock, j.j. bachofen, j.F mclennan G.A. Wilken, manusia itu pada mulanya hidup serupa kawanan berkelompok dan laki-laki perempuan bersetubuh melahirkan keturunan tanpa ikatan. Kelopok bati pada waktu iti sebagai inti dari masyarakat belum ada. Tinggakat ini ini dikatakan tingkat pertama dari perkembangan masyarkat dan perkembangan amnesia. Lambat laut manusia sadar akan hubungan antara si ibu dengan anak-anaknya sebagai suatu kelompok keluarga inti dalam masyarakat, karna anak-anak hanya mengenal ibunya tetapi tidak mengenal ayahnay. Didalam kelompok keluarga batih yang baru ini, ibulah yang menjadi kepala keluaraga. Perkawinan antara ibu dan anak laki-laki di hindarkan dengan demikianlah timbul data perkainan diluar batas suatu kelompok keluarga kemudian timbul lah adat exogami. Kemudian kelompokm keluarga tadi meluas karna garis keturunan untuk selanjutnya selalu di perhitungkan melalui garis ibu, dan demikian timbul suatu keadaan masyarakat yang oleh para sarjan awaktu itu di sebut keadaan matriacrchaat. Tingkat selanjutnya karna lelaki tidak puas dengan keadaan ini n mulai mengambil calon istri dari kelompok lain dan membawahnya ke dalam kelompoknya sendiri,

Perhatian para ahli anropologi terhadap kehidupan binatang berkelompok. Seperti yang dikatakan diatas teori tenytang bentuk keluarga didalam masyaraktat sering menggunakan perbandingan dari kehidupan binatang berkelompok. Missal konsep promiscuity dan sering juga yang digunakan sebagai perbandingan adalah kera. Pada tahun 1930 ahli biologo melakukan penelitian seperti C.R. Carpenter. Dan field work Melakukam peneltian klompok kera. Dan pada tahun 1959 seorang antropologi yang terkenal, ia adalah S. Washburn telah mengadakan observasi dengan alat-alat modern terhadap kehidupan berkelompok dari kera baboon. Dali penelitian-penelitian itu terbukti bahwa antara kehidupan masyarakat dan kawanan kehidupan kawanan kera itu terdapat perbedaan-perbedaan. Sedangkan dikawanan kera itu sendiri terdapat perbedaan-perbedaan. Contoh kalau dikalangan kera tidak terdapat tempat tinggal yang tetap,

Disamping itu ada cirri lai yang tampak seperti kehidupan keluarga manusia di atur oleh kelompok yang besar dari bermacam-macam aturan adat istiadat dan hukm yang tidak diketahui oleh nalurinya secara biologis, tetapi oleh kebudayaan. Akibat dari keadaan ini membuat kehidupan manusia itu beranekaragam dari penjuru dunia, memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Sedngkan kera itu sendiri dari penjuru dunia yang berbeda-beda memiliki sipat yang sama.

2. ADAD ISTIADAT LINGKARAN HIDUP DAN PERKAWIANAN

Tinkat –tikatan seanjang hidup individuhampir semua masyarakat di seluruh dunia. Kehidupan individu dibagi kedalam tingkatan oleh adat istiadat yang mengatur.masa bayi, masa penyapihan, masa kanak-kanak, masa remaja, masa fuberitas masa menikah , masa sesudah menikaah, masa hamil, dan masa tua. Dari peralihan individu tersebut biasanya diadaka pesta, atau upacara untuk merayakan peralihan tersebut, masa peralihan ini hampir ada pada seluruh masyarakat dunia.tetapi ada yang mungkin di daerah tertentu bagian ini penting dan sacral tetapi di dearh lain hanya sebuah perayaan biasa. Ada di sebagaian daerah mengatakan peralihan tingkatan hidup atau peraliha tingkat sosial tersebut adalah hal yang gawat, yang penuh bahaya nyata atau pun gaib. Upacara tersebut diadakan guna menghindari individu tersebut dari bahaya yang mengancam.

Perkawinan.suatu peralihan yang terpenting pada life-cycle dari semua manusia dari seluruh dunia adalah saat perallihan dari tingkat hidup remaja ketingkat keluarga,ialah perkawinan. Perkawinan meripakan pengatur manusia yang bersangkut paut masalah kehidupan sex-nya. Terutama persetubuhan. Perkawinan menyebabkan seorang lelaki tidak boleh melakukan hubungan sembarang dengan perempuan tetapi ia hanya boleh berhubungan dengan wanita yang sudah dinikahinya.

Pembatasan jodoh dalam perkawinan. Semua masyarakat di dunia memiliki larangan terhadap pemilihan jodoh bagi anggota-anggota dimasyarakat jawahdari lapisan bersekolah di kotah-kotah misalnya hampir tidak ada pembatasan asal mereka tidak boleh menika dengan saudara kandung. Di bagian Negara Ameriak ada laranga yang luas dari pada masyarkat jawa, disan orang pantang kawin dengan saudar kandung dan dilarang dengan undang-undang kawin dengan saudar sepupu.

Sayarat untuk kawin. diatas telah kita lihat bagai man hubungan perkawinnan didalam sebagian besar masyarakat tidak hanya berhenti pada fungsi pokonya saja tetapi memiliki akibat yang luas bagi yang bersangkutan. Seorng lelaki untuk kawin tersebut harus memenuhi sayarat.

a. Mas kawin
b. pencurahan tenaga untuk kawin

Adat menetap sesudah menikah menurut para ahli antropologi dalam masyarakat didunia ada tujuh adat menetap setelah menikah.

a. Adat utrolokal. Untuk penganten baru tidak boleh menetap di kelurga laki-laki dan juga perempuan.
b. Adat virilokal, jangan menetukan sang perempuan hidup dekat dengan keluarga si suami.
c. Adat uxorilokal jangan menetukan tempat penganten baru dekat dengan kerabat si istri
d. Adat bilokal. Jangan menentukan bahwa pengantin baru tinggal bergantian sesekali di dekat kerabat si suami sesekali dekat keerabat si istri.
e. Adad neolokal. Bahwa penganten baru tinggal di tempat sendiri tidak boleh di tempat kerabat si suami ataupun si istri.
f. Adat avonkulokal penganten baru bertempat tinggal dekat saudar laki-laki si ibu dari suami.
g. Adat matanolokal penganten baru tinggal terpisah si lelaki tinggal dekat kerabatnya sedangkan si perrmpuan dekat dengan kerabatnya sendiri.

3. RUMAH TANGGA DAN RUMAH TANGGA BATIH

Keluarga bati adalah suatu bentuk dari perkawinan akan juga terjadi kelompok kekerabatan yang di sebut keluarga bathi atau keluarga inti. Bentuk keluarga bathi yang sederhana dan biasanya di sebut keluarga bati yang berdasakn monogamy. Dalam masrakat bati di seluruh dunia ada dua fungsi pokok yang sama yaitu:

a. Keluarga bati merupakan sebuah kelompok di mana manusia itu pada dasrnya dapat mendapatkan bantuan serta keamanan dalam hidupnya
b. Keluarga bai merupakan diman manusia it, waktu kecil masi belum Berjaya mendapat pengasuhan dan pemulaan dari pendidikanny.
c. Keluarga bati dalam banyak masyarakat merupakan kelompok sosial yang menjalankan ekonomi rumah tangga sebagai kesatuan.

4. KELOMPOK-KELOMPOK KEKERABATAN

Keluarga batih sepeti terurai diatas merupakan satu kesatuan manusia yang di dalam antropologi disebut kingroup atau kelompok kekerabatan. Suatu kelompok terikat setidaknya oleh lima unsure

a. Sutu norma yang mengatur suatu kelompok.
b. Suatu keperibadi kelompok yang disadari semua warga.
c. Aktivitas-aktivitas berkkumpul dari kelompok secara ber ulang-ulang.
d. Suatu hak dan kewajiban yang mengatur dalam suatu kelompok.
e. Suatu kepemimpinan yang mengatur suatu kelompok.
f. Suatu hak dan kewajipan manusia ter hadap harta konsumptif dan harta produktif.

G. P. Murdock membedakan tiga kata gori kelompok kekerabatan.

a. Kelompok kekrabatan berkoporasi, biasanya kelompok ini kecil jumlahnya tidak banyak.
b. Kelompok kerabatan kadang kala. Kelompok ini berjumlah besar sehingga pergaulanya tidak terjalin secara intensif.
c. Kelompok kerabatan menrut adat. Kelompok ini berjumlah besar sehingga jarang saling mengenal hubungan nya tidak intensif , biasanya mereka mengenal hanya berdasarkan cirri yang diberikan adat.

5. PRINSIP-PRINSIP KETURUNAN

Tiap individu yang hidup dalam suatu masyarakat secara biologis dapat menyebut kerapat pada semua orang yang mempunyai hubungan darah (genes) melalui ibu atau ayahnya. Anggapan popular yang berkata bahwa cirri-ciri tubuh manusia itu diturunkan melalui darah adalah suatu anggapan yang tidak benar. Menurut para ahli biologi, cirri-ciri tubuh lahir dari tiap-tiap makhlui ini ditentukan oleh genes didalam inti sel.

Bagi seorang individu batas kaum kerabat berbeda-beda dilihat dari tiga sudut. Ketiga sudut itu adalah:

a). Batas kesadaran kekerabatan (kinship awareness)
b). Batas dari pergaulan kekerabatan (kinship relations)
c). Batas drai hubungan kekerabatan (kinship affiliations)

Batas dari hugungan kekerabatan itu seringkali juga amat berbeda dengan batas apengetahuan tentang kerabat dan dengan batas pergaulan kekerabatan. Hubungan kekerabatan menghubungkan sejumlah kerabat yang sama-sama memegang suatu kompleks dari hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang tertentu.

Hak-hak adalah misalnya hak untuk mewarisi harta, gelar, benda-benda pusaka, lambang-lambang dan sebgainya. Sedangkan kewajiban adalah misalnya untuk melakukan aktivitet kooperatif dan kewajiban untuk melakukan aktifitet produktif bersama. Disinipula tidak semua hak dan kewajiban itu semuanya secara lengkap dan utuh ada.

6. SISTEM ISTILAH KEKRABATAN

System istilah kekerabatan itu mempunyai sangkut paut dengan system kekerabatan dalam masyarakat. Dalam mengupas suau system kekerabatan, para sarjana ilmu antropologi biasanya memakai suatu rangkaian tanda-tanda yanag lain termaktub dalam kitab pedoman untuk field work, ialah kitab Notes and Queries on Anthropology.

Menurut para sarjana antropologi, masalah kekerabatan itu dpat dilihat dari tiga sudut:

1). Dari sudut cara pemakaian daripada istilah-istilah kekerabatan pada umumnya
2). Dari sudut susunan unsure-usrur bahasa dan istilahnya
3). Dari sudut jumlah orang kerabat yang diklarifikasikan dlam istilah-istilah kekerabatan.

7. SOPAN SANTUN PERGAULAN KEKERABATAN

Adat sopansantun pergaulan menentukan bagaimana orang seharusnya bersikap terhadap kerabatnya dank arena itu menandung banyak bahan yang bisa menerangkan system kerabatnya pada umumnya dalam masyarakat yang bersangkutan.

Adapun bagaimana adat sopan santun pergaulan itu dijalankan dalam kenyataan dapat dipahami juga ddengan cara observasi ego, mangenai bergaulnya dengan tiap-tiap kelas kerabatnya dan masyarakat oblek penyelidikan kita.

KESATUAN HIDUP SETEMPAT

Kesatuanhidup setempat atau community berbeda denga kelompok kekerabatan. Sebagai suatu kesatuan manusia, suatu komunitas itu tentu mempunyai juga perasaan kesatuan serupa dengan hampir semua kesatuan manusia yang lain, tetapi peraaan kesatuan dalam komunitas itu iasanya amat keras sehingga rasa kesatuan itu menjadi sentiment persatuan.

Sifat dari komuniti itu adalah wilayah, cita wilayah dan kepribadian kelompok itu merupakan dasar dan pangkal dari perasaan-perasaan seperti patriotism, nasionalisme dan sebagainya.

1. PEMBATASAN KONSEP
2. Kecuali cirri-ciri dari komuntas pada umumnya aitu wilayah, cinta wilayah, dan kepribadian keloampok yang tlaah disebut diatas, sutu komuniti dapat dikata mempunayai sifat-sifat tambahan berikut ini:
3. a). Komunitas kecil adalah kelompok-kelompok dimana warganya itu semuanya masih bisa saling mengenal dan saling bergaul dnegan frekuensi kurang atau lebih besar.
4. b). Karena sifat-sifta kecilnya itu juga, maka antara bagian bagian dari kelompok khusus didalamnya, tidak ada akneka warna yang besar
5. c). Komunitas kecil adalah pula krlompok dimana mnusia dapat manghadapi sebagian besad dari lapangan-lapangan kehidupanya secara bulat.

6. BENTUK-BENTUK sKOMONITI KECIL

Bentuk bentuk komunitas kecil

a). kelompok berbur u atau band yang hidp berpindah-pindah dari berburu dari meramu dalam batas suatu wilayah yang terterntu
b). dsa yang merupakan sustu kelomapok hidup keciln yag memetap dlam suatu wilayah yang tetap.

7. SOLIDARITAS DALAM MASYARAKAT KECIL

Ada suatu rasa salaing tolong menolong yang besar. Dalam bahas aindomesia dipakai istilah rasa gotong royong untuk meneybut rasa saling bantu menbantu itu. Ada berbagai macam tolong menolong:

1. Tolong menolong dalam aktifitas pertanian
2. Tolog menolong adalam ktifiasa sekitar rumah tasngga
3. Tolong menolong dalam akitfitas persiapan pesta dan upacara
4. Tolong menolong dalam peristiwa kecalakaan, bencana dan kematian

Gotong royong Kerja bakti. Disampiang adat istiadat tolong emnolong antara wrga suatu komutas kecil dalam berbagai macam lapangan kehidupan sosial,adapula aktifitas kerjasama yang lain yangdisebut gotong royong.

8. SISTEM PELAPISAN OSIAL

Dalam amsyarakat yang kompleks biasanya pembedaan kedudukan dan derajat bersifat kompleks juga. Embedaan kedudukan dan dan derajat individu dalam masyarakat itulah yang menjadi dasar pangkal dari gelaja pelapisan sosial atau social stratification yang ada dalam hampir semua masyarakat didunia.

Pembedan kedudukan orang dalam tuap-tiap masyatakkat tidak sama. Hal ini juga berarti bahwa alas an-alasan yang diterima oleh pandangan mum dalam suatu masyaraat untuk mengukur kedudukan apakah yang rendah dalam masrarakat itu bereda dalam masyarakat lain.

9. PIMPINAN MASYARAKAR

Pimpinan masyarrakai itu bisa merupakan suatu kedudukan sosial, terapi juga proses sosial. Pengaru besar seorang pemimpin masyarakat bisa ditimbulkan karena adanya berbagai macam sifat yang dimiliki oleh pemimpin, yang terpenting diantaranya adalah:

1. Sifat-sitaf yang disenangi masyarakat pada umumnya
2. Sifat-sifat yang menjadi cita-cita banyak warga masyarakat dan suka ditiru
3. Sifat keahlian yang diakui warga masyarakat
4. Sifat yang diwujudkan oleh kekuatan fisik yang biasanya dapat ditunjukkan dengan tindak kekerasan
5. Sfat-sifat yangs esuai dengan norma dan nilai masyarakat
6. Memiliki tanda-tanda pimpinan resmi yang ditentukan oleh adat.

10. SISTEM-SISTEM PENGENDALIAN SOSIAL

Pengendalian ketegangan sosial bisa dilakukan dengan berbagai macam cara yang dapat dapat digolongkan menjadi peling sedikit lima golongan:

1. Mempertebal keyakinan pada warga masyarakat akan kebaikan adat iatiadat
2. Member ganjaran kepada warga masyarakat yang biasanya taat kepada adat istiadat
3. Mangembangkan rasa malu dalam jiwa warga amsyarakat yang menyeleweng dari adat istiadat
4. Mengembangkan rasa takut dalam jiwa warga masyarakat yang hendak menyeleweng dari adat istiadat dengan ancaman kekerasan

SISTEM RELIGI DAN ILMU GAIB

1. PERHATIAN ILMU ANTROPOLOGI BUDAYA TERHADAP RELIGI

Teori-teori tentang asal mula inti religi

1. Teori bahwa kelakuan manusia yang bersifat religi itu terjadi karena manusia itu mulai sadar akan adanya fpaham jiwa.
2. Teori bahwa kelakuan manusia yang bersifat religi itu terjadi karena manusia itu mengakui adanya banyak gejala-gejala yang tidak dapat diterangkan denan akalnya
3. Teori bahwa kelakuan manusia yang bersifat religi itu terjadi dengan maksud untuk menghadapi krisis-krisis yang ada dalam jangka waktu hidp manusia
4. Teori bahwa kelakuan manusia yang bersifat religi itu terjadi karena manusia itu kagum akan adanya gejala-gejala dan kejadian-kejadian yang luar biasa dalam hidupnya dan dalam alam sekelilingnya
5. Teori bahwa kelakuan manusia yang bersifat religi itu terjadi karena suatu gerakan atau emosi yang ditimbulkan dalam jiwa manusia sebagai akibat dari pengaruh rasa kesatuan sebagai warga masyarakat
6. Teori bahwa kelakuan manusia yang bersifat religi itu terjadi karena manusia itu mendapat suatu firman dari tuhan.

2. UNSUR-UMSUR DALAM RELIGI

Ditinjau dari banyaknya religi yang dan banyaknya suku-suku didunia maka akan tampak adanya empat unsure pokok dari religi pada umumnya ialah:

1. Emosi keagamaan atau getaran jiwa yang menyebabkan manusia itu berlaku serba religi
2. System kepercayaan atau bayangan-bayangan manusia tentang bentuk dunia, alam, alam gaib, hidup, maut, dan sebagainya
3. System upacara keagamaan yeng bertunuan mencari hubunagn dengan dunia gaib berdasarkan atas system kepercayaan tersebut.
4. Kelompok keagamaan atau kesatuan sosial yang mengkonsepsikan dan mengaktifkan religi berserta system upacara keagamaannya.

3. EMOSI KEAGAMAAN

Emosi keagamaan aiat religious emotion adalah suatu getaran jiwa yang pada suatu ketiak pernah menghinggapi seseorang manusia dalam jangka waktu hidyupnya walaupun getaran itu mingki n hanya berlangsung beberapa detik saja. Emosi keagamaan itulah yang mendorong seseorang berlaku serna religi

4. SISTEM PKEPERCAYAAN

Setiap manusia sadar akan adanya suatu alam dunia yang tidak tampak yang ada diluar batas apanca indra dan diluar batas akalnya. Dunia atau dalalah dunia gaib taau dunai supranatural.

Makhluk dan kekuatan yang menduduki dunia gaib itu daalah dwa-dewa yan baik maupun yang jahat, makhluk-makhluk halus lainnya seperti ruh-ruh leluhur, ruh-ruh lainnya yang baik maupun yang jahat, hantu hantu, dan sebagainya, dan kekuatan sakti yang bisa beruna maupun yang bisa menyebabkan bencana.

5. SISTEM UPACARA KEAGAMAAN

Peraaan manusia, cinta, hormat, bakti, juga takut dan ngeri terhadap dunia ghaib mendorong manusia untuk melakukan berbagai macam perbuatan yang bertunuan mencari hubungan dengan dunia gaib.

Dalam hal melakukan kelakuan-kelakuan serba religi itu manusiamelakukan upacara keagamaan atau religious ceremonial. Tiap-tiap upacara keagmamaan terdapat empat komponen:

1. Tempat Upacara
2. Waktu Upacara
3. Banda-benda dan alat-alat upacara
4. Orang yang melakukan dan memimpin upacara.

6. KELOMPOK KEAGAMAAN

Kelompok keagamaan atau religious community adalah seperti apa yang telah disebut diats, kesatuan kemasyarakatan yang mengonsepsikan dan mengaktifkan suatu religi beserta system upacara keagamaannya.

Adapun kesatuan-kesatuan kemasyarakatan yang menjadi pusat dari aktifitas religi dan kenyataan kehidupans sosial itu bisa berupa empat tipe:

1. Keluarga-batih atau lein-lain kelompok kekerabatan yang kecil
2. Kelompok kekerabatan yang unilineal yang lebih besar seperti klen
3. Kesatuan-kesatuan hidup setempat atau komunitas
4. Kesatuan-kesatuan sosial yangan orientasi yang khas.

7. KONSEP RELIGI

Menurut para ahli antropologi paling sedikit ada delapan bentuk religi didunia

1. Fetishism, ialah bentuk religi yang berdasarkan kepercayaan akan adanya jiwa dalam benda-benda tertentu dan yang terdiri dari aktifitas keagamaan guna memuja benda-benda berjiwa tadi.
2. Animism, ialah bentuk religi yang berdasarkan kepercayaan bahwa alam sekeliling tempat teingal manusia itu didiami berbagai macam ruh, dan yang terdiri dari berbagai aktifitas keagamaan guna memuja ruh tadi.
3. Animatism, bukan suatu bentuk religi, tapihanya suatu seintem keparcayaan bahwa benda-benda dan tumbuh-tumbuhan sekeliling manusia itu berjiwa dan bisa berpikir seperti menusia, kepercayaan itu tidak untuk mengakibatkan aktifitas keagamaan guna memuja benda-benda atua tumnuh-timbihan tadi, tapi animatisme bias amenjadi unsure dalam religi lain.
4. Prae-Animism, adalah bentuk religi yang berdasar kepada kepercayaan pada kekuatan sakti yang ada dalam segala hal yang luar biasa dan terdiri dari aktifitas keadamaan yang berpedoman pada kepercayaan tersebut. Kadang-kadang religi ini juga disebut dynamism.
5. Totemism, ialah bent religi yang ada dalam masyarakat yang tediri dari kelompok kekerabatan yang unilinear dan berdasarkan kepercayaan bahwa kelompok-kelompok unilinear tadi masing masing berasal dari dewa-dewa nenek moyang yang sat dengan yang lain juga saling kekerabatan.
6. Polytheism, yaitu bentuk religi yang berdasarkan kepercayaan pada satu sstem yang luas dari dewa-dewa dan terdiri dari upacara guna memuja dewa-dewa tadi
7. Monotheism, yaitu bentuk religi yang berdasarkan kepercayaan pada satu dewa atau Tuhan dan yang terdiri dari upacara guna memuja dewa atau tuhan tadi.
8. Mstic, adalah bentuk religi yang berdasarkan kepercayaan satu Tuhan yang danggap meliputi segala hal dalam alam dan system keagamaan ini terdiri dari upacara-upacara yang bertujuan mencapai kesatuan dengan tuhan.

8. ILMU GAIB

Ilmu ghaib atau dalam bahas ainggrisnya magic merupaka teknik-teknik cara yang dipergunakan oleh manusia untuk emmpengaruhi alam sekitarnya sedemikian rupa sehingga sekirtarnya itu menuruti kehendaknya dan tujuannya. Dasar-dasar ilmu ghaib itu adalah kepercayaan kepada kekuatan sakti dan adanya hubungan sebab akibat manurut hubungan-hubungana asosiasi.

9. HUBUNGAN RELIGI DAN ILMU GAIB

Dengan ilmu gahaib tersebut orang hendak mencapai maksud atau keinginan dengan cara yang ghaib, karena dengan cara pengerahuan biasa teknologi atau ilmu pengetahuan ia tidak dapat mencapai maksudnya.

Perbuatan-perbuatan keagamaan bisa keluar dari hati sanubari karena keyakinan,, kalau orang terhinggap oleh emosi keagamaan, sungguhpun orang sering melakukannya hanya karena kebiasaan rutin saja. Toh perbuatan keagamaan sering juga dilakukan orang untuk mencapai suatu maksud atau keinginan.

Walaupun sekarang perbedan antara ilmu ghaib dan religi sudah menjadi jelas, tapi dalam kenyataan upacara-upacara keagamaan sering mengandung unsure-unsur ilmu ghaib. Salah satu contohnya adalah ucapan mantra-mantra yang sering merupakan unsure-unsur penting dlam upacara keagamaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: