
ini blog gue, gue gak akan nuliskan tentang gue disini. gue akan tuliskan tentang blog ini. baiknya kita baca point2 yang guekutip dari civilization and its discontents, sigmund freud:
1. apa yang dipahami manusia kebanyakan atas agamanya – dengan sistem doktrin dan janji-janji yang pada satu sisi menjelaskan tentang teka-teki dunia dengan kelengkapan yang mengagumkan, dan pada sisi yang lain meyakinkan bahwa tuhan yang maha seksama akan mengawasi kehidupannya dan akan memberi ganti rugi di kehidupan masa mendatang atas segala frustasi dan kekecewaan yang dideritanya di dunia ini.
2. segala sesuatunya tampak begitu infantil, begitu jauh dari realitas, sehingga bagi siapapun yang bersikap ramah terhadap kemanusiaan akan sangatlah menyakitkan untuk berpikir bahwa sebagian teramat besar dari makhluk hidup tidak akan pernah bisa bangkit dan berkembang di atas pandangan hidup seperti ini.
3. lebih memalukan lagi ketika disadari kemudian betapa besar jumlah manusia-manusia yang hidup pada zaman sekarang, tidak mampu berbuat apa-apa selain melihat bahwa agama ini tidak selalu bisa dipertahankan, namun demikian tetap saja berusaha mempertahankannya, sepotong demi sepotong, dalam serangkaian tindakan perlawanan yang memprihatinkan.
4. kita cenderung untuk bergaul, bercampur dengan barisan pengikut ini, untuk bertemu dengan filsuf-filsuf itu, yang berpikir bahwa mereka dapat menyelamatkan tuhan agama mereka dan menggantikannya dengan suatu prinsip impersonal, kabur, abstrak, dan berppidato dengan kata-kata memperingatkan: “engkau tidak boleh memakai nama tuhan sebagai tuhanmu dengan sia-sia!”
5. mari kita kembali pada si manusia biasa dan pada agamanya yang harus memikul reputasi itu. hal pertama yang kita pikirkan adalah sebuah pepatah terkenal dari seorang pujangga dan pemikir besar, tentang hubungan antara agama dengan seni dan ilmu pengetahuan: “dia yang mempunyai ilmu pengetahuan dan seni, juga mempunyai agama; tapi dia yang tidak mempunyai keduanya, berikan dia agama!” – goethe, zahme xenian ix (gedichte aus dem nachlass).
6. pepatah ini di satu sisi menarik antitesis antara agama dengan dua pencapaian tertinggi manusia, dan di sisi lain menegaskan (mengingat nilai mereka dalam kehidupan), bahwa agama dan pencapaian-pencapaian tersebut dapat saling mewakili atau saling menggantikan.