Hal yang perlu kita jawab disini adalah ada apa dengan pendidikan di Indonesia, kenapa tidak cukup efektif padahal materi geologi telah diberikan dalam kurikulum geografi SMP kelas VII, yang bahkan pondasinya telah diberikan sejak kelas 1 SD (Lihat Cincin Api: Integrasi Kurikulum di Indonesia (1))? Ini artinya hal ini telah diajarkan di setiap jenjang pendidikan dan materi ini seharusnya telah cukup efektif. Namun kita masih saja tergagap hidup di bumi Indonesia. Ada apa dengan pendidikan di Indonesia, kenapa tidak cukup efektif? Lalu apa saja dan bagaimana cara memasukkan materi “Pendidikan Cincin Api” dalam mata pelajaran lainnya? Bagaimana bisa diintegrasikan? Ini sebuah pertanyaan besar didunia pendidikan yang perlu kita jawab bersama.
Sebelumnya, satu hal penting yang perlu saya sampaikan disini adalah kita perlu menanggapi serius ide Kompas membuka wawasan ini via Cross Media Coverage di Harian KOMPAS, KOMPASTV, KOMPAS.com, dan juga Kompasiana. Saya yakin, seharusnya inisiatif Kompas ini tidak terjadi jika pendidikan kita telah cukup efektif memberikan pemahaman bumi Indonesia. Tapi tidak masalah, kita masih bisa berbenah diri. Kita bisa perbaiki pendidikan di Indonesia. Saya dan anda sebagai Kompasianer, kita juga bisa ikut berperan dan mengawali dari Kompasiana. Dan kita bisa memperbincangkannnya dengan teman-teman disekitar kita.
Sebagaimana kita ketahui, sejak ditetapkannya Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, dan Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Permendiknas Nomor 22 dan 23 Tahun 2006, wewenang untuk menyusun kurikulum diserahkan kepada setiap satuan pendidikan (sekolah). Sekolah berhak menyusun kurikulum tersendiri, yang disesuaikan dengan kondisi sekolah dan potensi setiap daerah. Dari sisnilah kita punya harapan untuk berbuat banyak memberi pemahaman kepada peserta didik tentang wawaasan keindonesiaan, sebuah bangsa yang berdiri diatas tanah retas dan bertabur cincin api. Perlu juga kita membuka kemungkinan pengintegrasian pada pendidikan informal dan non formal; namun tulisan ini masih difokuskan pada pendidikan formal.
Kita akan awali dari materi pendidikan Agama Islam. Ini sebagai contoh saja, bahwa pendidikan agama ikut berperan dalam rangkaian “pendidikan cincin api” yang saling terintegrasi dalam berbagai mata pelajaran di setiap jenjang pendidikan, baik formal, informal, maupun non formal.
Pendidikan Agama
Diawali dari aspek Akhlak Pendidikan Agama Islam kelas VII tentang membiasakan perilaku terpuji. mencakup didalamnya adalah tawaduk, taat, qanaah, dan sabar; zuhud dan tawakal untuk aspek akhlak kelas VIII, atau qana’ah dan tasamuh, beriman kepada qada dan qadar untuk kelas IX. Apa keterkaitan materi ini dengan “pendidikan cincin api?”. Jawabanya jelas, memberikan landasan keimanan dan kesiapan mental religius yang mendampingi pengetahuan ilmiah.
Syaratnya, pendidikan agama harus terbuka dan lebih realistis; bahwa agama bukan sekedar ritual dan aspek-aspek fiqhiyah. Agama harus juga kita sadari sebagai bagaimana kita menjalani hidup, cara berpikir, juga cara bersikap. Dari sinilah kesiapan untuk lebih mensyukuri rahmat tuhan bumi Indonesia akan menuntun kesadaran ini. Di SMA kita mendapati materi Husnudzan pada aspek akhlak. Kompetensi dasarnya menyebutkan pengertian perilaku husnuzhan, menyebutkan contoh-contoh perilaku husnuzhan terhadap Allah, diri sendiri dan sesama manusia, dan membiasakan perilaku husnuzhan dalam kehidupan sehari-hari. Mensyukuri bumi Indonesia dengan kesadaran husnudzan (berbaik sangka) kepada Allah memberi bekal keimanan atas kesadaran ini, bahwa Tuhan memberikan kesuburan kepada bangsa Indonesia melalui taburan cincin api.
Konsep syukur bahkan bisa kita temukan dalam materi pelajaran kelas 1 SD. Menunjukkan ciptaan Allah melalui ciptaan-Nya. Pondasi keimanan ini terkait erat dengan kekuasaan Allah.
Model integrasinya beragam. “Pendidikan cincin api” bisa bersifat hidden curiculum, artinya dia tidak ada di atas kertas silabus, namun hal tersebut bisa diajarkan di dalam pembelajaran. Dengan ini diharapkan memberi pemahaman yang lengkap tentang cincin api bumi Indonesia ditinjau dari berbagai aspek dan sudut pandang, dari sisi ilmiah yang tewakili ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dan seterusnya termasuk pendidikan agama sehingga memunculkan kesadaran dan kesiapan kita hidup di bumi indonesia dengan segala potensi positif dan dampak negatifnya. Sekalilagi, syaratnya, kita harus menyadari bahwa agama bukan hanya ritus semata. Meski ini hanya contoh, saya rasa cukup aplikatif.
Ilmu Pengetahuan Alam Biologi
Kita berangkat dari SMA; memahami manfaat keanekaragaman hayati. Standar Kompetensi ini berisi kompetensi dasar: mendeskripsikan konsep keanekaragaman gen, jenis, ekosistem, melalui kegiatan pengamatan; mengkomunikasikan keanekaragaman hayati Indonesia, dan usaha pelestarian serta pemanfaatan sumber daya alam. Materi ini tentu tidak cukup sekedar membaca peta tipe keanekaragaman flora Indonesia, membaca peta tipe keanekaragaman fauna Indonesia menurut Wallace dan Weber, mendeskripsikan ciri-ciri bioma yang ada di Indonesia, mengumpulkan informasi berbagai jenis flora dan fauna Indonesia yang terancam kepunahan dan dilindungi, mengumpulkan informasi berbagai cara konservasi untuk melindungi flora dan fauna dari kepunahan, namun juga peranan dan arti penting keanekaragaman hayati bagi manusia. Disinilah kata kuncinya, mengenal alam Indonesia dan kehidupan hayati didalamnya.
Di SMP kita menemukan hal yang lebih mendasar: memahami gejala-gejala alam melalui pengamatan, dan memahami saling ketergantungan dalam ekosistem dengan melaksanakan pengamatan objek secara terencana dan sistematis untuk memperoleh informasi gejala alam biotik dan abiotik; menjelaskan sifat saling ketergantungan antara komponen-komponen dalam ekosistem, dan ketergantungan antara komponen biotik dan abiotik. Demikian; lengkaplah pengetahuan tentang sumber daya alam hayati.
***
Dari kurikulum pendidikan di Indonesia seharusnya kita telah bisa menyaksikan pengetahuan masyarakat yang lengkap tentang bumi Indonesia. Pendidikan agama memberi pondasi keimanan dan kesiapan mental, ilmu pendidikan alam dan sosial memberikan penjelasan ilmiah yang mendukungnya. Kita belum melihat pelajaran sejarah, fisika, sosiologi, dan ekonomi, atau materi pelajaran lain yang bisa diintegrasikan dengan “pendidikan cincin api,” ini. Kita baru melihat pada pelajaran yang menjadi tumpuan utama pengetahuan ini, yang terwakili dalam Ilmu Pengetahuan Alam, Geografi, dan Pendidikan Agama. Kita juga belum menggali potensi dari pendidikan non formal dan informal dalam peransertanya memberikan pemahaman kepada bangsa Indoensia.
Perlu pula disadari, semuanya tidak ada yang berdiri sendiri; namun berhubungan satu sama lain. Jika kita memberikan pemahaman yang utuh mengenai hal ini, kita memiliki kesiapan dan kesadaran penuh akan potensi dan sisi negatif bumi Indonesia. Saya Ahmad Farid Mubarok, sudah terverivikasi
, mahasiswa Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Santri Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta. Dari background dunia pendidikan, saya optimis Pendidikan Agama bisa ikut berperan. Dan saya juga optimis pendidikan non formal dan informal mampu berperan. Tulisan ini dan tulisan saya sebelumnya, Cincin Api: Integrasi Kurikulum di Indonesia (1) berusaha menjawab permasalahan ini.
Jika kita telah sepakat bahwa pendidikan berperan besar dalam peningkatan pemahaman masyarakat untu mencegah dan meminimalisir dampak dari bencana; sudah saatnya kita berbenah.[]
Tulisan ini sebelumnya diposting di Kompasiana.
-7.757560
110.399867
Like this:
Be the first to like this post.