1. tim website madrasah menghubungi kami untuk melakukan kerjasama. wujudnya tim tsb meminta dibikinkan microsite di subdomain web yg kami kelola.
2. kami dengan senang hati menyambutnya. dalam beberapa kesempatan pertemuan kami mendukungnya. kami bertemu juga dengan anggota tim yang bersemangat mempelajari pola web kami.
3. karena web disk space di server yg terbatas, kami harus merapikan beberapa file agar calon microsite yg akan masuk dalam lingkaran subdomain web yg kami kelola bisa muat.
4. hmm, tentang keseriusan kami sampai lembur, cari modem karena jaringan weha net bobo’ ( hal ini juga tidak usah dihitung paket data broadband yg kami gunakan dan habis berapa), hmm, mengajari pola web kami ke anggota tim mereka, dan hal2 kecil lainnya.
5. sore hari kami mendengar kabar kerjasama ini dibatalkan. alasannya tidak jelas. tim mereka tidak melakukan konfirmasi.
6. mendengar kabar tsb, kami mengunjungi markas mereka, bertemu dengan ketua tim. dengan nada kecewa, ketua tim membatalkan kerjasama. alasannya kami “kurang progresif” (ini bahasa kami). sampai disini kami belum paham letak kesalahan kami, karena sejauh ini kami telah bekerja keras.
8. ketua tim lalu menjelaskan hal yang sebelumnya tidak pernah disampaikan kepada kami, bahwa mereka diburu waktu. mereka punya target waktu yang tidak pernah disampaikan kepada kami. dan dalam pandangan sepihak mereka, kami dinilai tidak serius. dan melampaui waktu (yang bagi kami fiktif – karena tidak pernah diberitahukan kepada kami – dan menjadi rahasia) mereka.
9. kami kecewa dengan sikap mereka, ketidakterustetangan, dan sikap menyalahkan.
10. dalam pembicaraan dengan ketua tim itu, kami saat itu menjelaskan bahwa apa yang mereka minta telah kami selesaikan. ketiga microsite telah jadi dan telah diindeks masuk dalam lingkaran subdomain web yg kami kelola. persis yang mereka minta. beberapa hal kecil akan kami selesaikan malam itu juga, kami berusaha meyakinkan mereka.
11. mereka lalu menjelaskan, dan menunjukkan, bahwa mereka diam diam telah membuat sendiri web yg akan berada diluar jaringan web yg kami kelola, dan itu nanti tidak ada hubungannya dengan kami.
12. saat mereka mempertanyakan susahnya koordinadi kami dgn mereka, diam diam kami juga mempertanyakan, siapa yang tidak fair dalam kerjasama ini. tapi ini tidak kami sampaikan. dengan alasan “kestabilan politik di republik ini”.
13. dalam pembicaraan internal mereka, ketua tim tsb dan pihak admisi madrasah, saat kami ada di sana, kami melihat mereka panik atas usaha yang belum mereka lakukan yang kemungkinan akan dipertanyakan dalam rapat admisi dengan pengasuh.
14. kami hanya menduga duga bahwa alasan kepanikan itu lalu mereka melimpahkan kesalahan ke kami. mudah2an dugaan kami salah. mereka tidak sejahat itu. amin.
15. sampai sejauh ini, kami masih bisa memaafkan. dengan kelapangan hati, kami masih berharap mereka berubah pikiran untuk tidak membatalkan kerjasama ini. dengan senang hati kami akan menyambutnya kembali.
16. dan sekarang kami telah memahami posisi mereka yang dikejar waktu. alasan membatalkan sepihak kerjasama ini. termasuk pandangannya tentang kami. kami bisa memahami.
17. bagi kami yang telah dihakimi bersalah dan kami bisa menerima beban kesalahan ini, kami hanya ingin bilang, kesalahan ini bukan 100% dari kami. tidak ada gunanya kan kami mempertahankan ego bahwa kami tidak bersalah?
18. catatan tambahan: dengan dukungan kami hingga sampai sejauh ini, kami telah membuka peluang kerjasama yang lebih erat, kita telah berangkat jauh dari titik nol saat kita mencoba berkenalan dulu, kini kita telah berkenalan dan siap untuk berhubungan mesra.

ttd. koord kominfo pia. tulisan ini diposting di blog pribadi saya yamg masih tiga ribuan pengunjung perbulan..

Berawal dari data sensus yang dibuat Zahrina di http://ninazahrina.blogspot.com/2012/01/sensus-blogger.html terkumpul nama-nama di wahid hasyim yang punya blogger. Dimulai dari saya, Zaronja, Pak Guntur, Mas Budi, Syafaat, Rizqi, Mas Charis, Mas Erwin, Pak Wahyu, Pak Subi, Pak Mail, Enggal, Mas Amiq, Mas Usman, Ali Akbar, Mas Mustafa, Marisa, Pak Aqib, Pak Basith, Pak Jaelani,Neneng Endarwati, Pak Syamsul, dan Faiq.

Ahmad Farid Mubarok
Author

Data ini cukup mengejutkan saya dan temen-temen lainnya. Ternyata kita punya banyak temen blogger di Wahid Hasyim yang selama ini tidak saling mengenal. Masing-masing, atau kalau boleh saya menyebutnya, secara diam-diam bikin blog. Terkait validitas data hasil sensus tersebut, rasaya cukup banyak perbedaan dari data yang saya punya sebelumnya, yaitu yang saya list di daftar teman blogger. Asumsinya mungkin seseorang memiliki dua blog atau lebih. Hal ini memang terjadi, misalnya Almustafa yang memiliki dua blog di http://almustafa-ahmad.blogspot.com dan http://ninoliciousart.blogspot.com. Ini belum dihitung yang http://sharethesamelove.blogspot.com yang katanya udah dijual ke amerika, jadi ga bisa di buka :) . Jadi Almustafa memiliki tiga blog,yang dua aktif, yang satu sudah tidak aktif.
Data seperti ini yang perlu setiap saat kita update. Terlebih, melihat hasil sensus tersebut menyatakan bahwa banyak blog2 di atas yang udah lama gak di update.Berikut adalah data blogger yang telah diperbaharui:


1. Budi Nurbelia http://andaluzpupuz16.blogspot.com/, http://budinurbelia89.blogspot.com/
2. Syafaat Syareh Syifa http://syafaat-syifa.blogspot.com/
3. Laila Rina Munajah http://afizaanindya.blogspot.com/
3. Pak Ismail http://smileinmay.blogspot.com/
4. Charid Fuadi http://chariscr7.blogspot.com/, http://farhal-aisy.blogspot.com/
5. Budi Ardianto http://ardianzsite.wordpress.com/
6. Syamsul Arifin http://chanxs.wordpress.com/, http://arifcahkedalon.blogspot.com
7. Subiyanto http://subisaja.blogspot.com/
8. Abda Zaronja http://zaronja.blogspot.com/
9. Guntur http://guntur90.blogspot.com/
10. Rizki http://rizqiebook.blogspot.com/
11. Erwin http://eamfis.blogspot.com/
12. Pak Wahyu http://maswhy.blogspot.com/
13. Enggal http://enggalrizki.blogspot.com/
14. Amiq http://elhaqpoenya.blogspot.com/
15. Usman http://mh-usman-riyadi.blogspot.com/
16. Ali Akbar http://ayat-usahaku2.blogspot.com/
17. Mustafa http://almustafa-ahmad.blogspot.com/
18. Marisa http://harmonyriesa.wordpress.com/
19. Pak Aqib http://ngabdi.blogspot.com/
20. Pak Basith http://abdulbasithabdullah.blogspot.com/
21. Pak Jae http://jaedukatif.wordpress.com/
22. Neneng Endarwati http://mizz-neneng.blogspot.com/
23. Faiq http://www.faisnurul.blogspot.com/
24. Zamroni http://zamputrapati.blogspot.com
25. …
26. …
27. …
28. …
29. …
30. …

Oke, langsung saja, sebenarnya disini saya bermaksud untuk kembali mendata blogger Wahid Hasyim. Tujuannya untuk membikin semacam komunitas blogger gitu. Ini tentu saja kalo kita sepakati. Silakan input via form berikut untuk melakukan konfirmasi:




Ahmad Farid Mubarok
Author

sumpah pemuda adalah satu dari sekian pengingat kebangsaan kita sebagai warga negara indonesia, selain tentu saja hari kemerdekaan, hari pancasila, hari pahlawan dan hari nasional lainnya. hari sumpah pemuda menjadi nilai tersendiri akan penghargaan generasi muda yang ikut andil dalam proses kemerdekaan, dan kedepannya, bagaimana caranya memberdayakan generasi muda untuk menyongsong masa depan indonesia. ini tentu bukan persoalan sederhana ditengah ancaman narkoba, free seks, masa depan dunia kerja yang tidak pasti, hingga sifat dari dalam seorang remaja yang “tidak berpikir dua kali, tidak mau mengalah” – kata rhoma irama, yang membuat remaja sulit ditebak.

yah itulah remaja dengan segama persoalannya. namun bukan ini yang hendak saya tulis, melainkan apa yang mereka sumpahkan itu di sumpah pemuda. atau barangkali pemahaman kita terhadap sumpah mereka itu.
sesungguhnya salah kalau sumpah pemuda itu bilangnya “berbahasa satu,” wong indonesia punya banyak bahasa daerah, ratusan, nah dengan begitu kalo sumpahnya hanya mengakui bahasa indonesia saja itu ya tidakk bener, yang lebih mendekati bener itu “berbahasa satu bahasa persatuan,” itu bahasa indonesia, itu bahasa persatuan. katanya indonesia negara berbhineka tunggal ika?

ini tentu bukan persoalan sederhana. persatuan itu bukan penyatuan. persatuan itu justru dipersyarati oleh adanya keberagaman yang bersedia diikat dalam kesatuan yang menghargai perbedaan dan suasana saling menghormati keberagamaan dan mampu bekerja sama.

seperti sikap kita dalam beragama, kalau kamu tidak terang-terangan bahwa kamu pemeluk hindu, budha, katolik, kristen, konghuchu, dsb, dan saya sembunyi-sembunyi bahwa saya muslim – maka kita harus siap-siap untuk saling tertipu dan terjebak. karena itu pluralisme justru dipersyarati oleh ragamnya identitas dan karakter diberbagai konteks kehidupan. yang, sekali lagi, ragam identitas dan karakter itu mampu diikat bersama, bukan dileburkan jadi satu tapi mau didudukkan bersama.

frasa yang kita ucapkan berulang-ulang hari ini: “berbahasa satu bahasa indonesia” itu bagaimana bisa diterima di negeri ini?. barangkali karena cara pandang ini kita perlahan diajarkan untuk mulai tidak menghargai bahasa daerah kita masing masing. entahlah. tapi yang saya rasakan bahasa daerah itu semakin menjauh dari kehidupan modern kita. yah, bahasa kita kan bahasa indonesia, bahasa komunukasi kita dengan dunia adalah bahasa inggris, itulah bahasa universal, dan bahasa agama kita adalah bahasa arab. selesai, cara pandang seperti ini menyingkirkan bahasa daerah semakin terdesak dan kita anggap tidak penting. ternyata tidak sederhana menjaga keindonesiaan itu.

karena itu kita harus berhati-hati mengikat sumpah. kita harus berhati-hati mengulang sumpah yang para pemuda sumpahkan dulu.[]

Hal yang perlu kita jawab disini adalah ada apa dengan pendidikan di Indonesia, kenapa tidak cukup efektif padahal materi geologi telah diberikan dalam kurikulum geografi SMP kelas VII, yang bahkan pondasinya telah diberikan sejak kelas 1 SD (Lihat Cincin Api: Integrasi Kurikulum di Indonesia (1))? Ini artinya hal ini telah diajarkan di setiap jenjang pendidikan dan materi ini seharusnya telah cukup efektif. Namun kita masih saja tergagap hidup di bumi Indonesia. Ada apa dengan pendidikan di Indonesia, kenapa tidak cukup efektif? Lalu apa saja dan bagaimana cara memasukkan materi “Pendidikan Cincin Api” dalam mata pelajaran lainnya? Bagaimana bisa diintegrasikan? Ini sebuah pertanyaan besar didunia pendidikan yang perlu kita jawab bersama.

Sebelumnya, satu hal penting yang perlu saya sampaikan disini adalah kita perlu menanggapi serius ide Kompas membuka wawasan ini via Cross Media Coverage di Harian KOMPAS, KOMPASTV, KOMPAS.com, dan juga Kompasiana. Saya yakin, seharusnya inisiatif Kompas ini tidak terjadi jika pendidikan kita telah cukup efektif memberikan pemahaman bumi Indonesia. Tapi tidak masalah, kita masih bisa berbenah diri. Kita bisa perbaiki pendidikan di Indonesia. Saya dan anda sebagai Kompasianer, kita juga bisa ikut berperan dan mengawali dari Kompasiana. Dan kita bisa memperbincangkannnya dengan teman-teman disekitar kita.

Sebagaimana kita ketahui, sejak ditetapkannya Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, dan Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Permendiknas Nomor 22 dan 23 Tahun 2006, wewenang untuk menyusun kurikulum diserahkan kepada setiap satuan pendidikan (sekolah). Sekolah berhak menyusun kurikulum tersendiri, yang disesuaikan dengan kondisi sekolah dan potensi setiap daerah. Dari sisnilah kita punya harapan untuk berbuat banyak memberi pemahaman kepada peserta didik tentang wawaasan keindonesiaan, sebuah bangsa yang berdiri diatas tanah retas dan bertabur cincin api. Perlu juga kita membuka kemungkinan pengintegrasian pada pendidikan informal dan non formal; namun tulisan ini masih difokuskan pada pendidikan formal.

Kita akan awali dari materi pendidikan Agama Islam. Ini sebagai contoh saja, bahwa pendidikan agama ikut berperan dalam rangkaian “pendidikan cincin api” yang saling terintegrasi dalam berbagai mata pelajaran di setiap jenjang pendidikan, baik formal, informal, maupun non formal.

Pendidikan Agama

Diawali dari aspek Akhlak Pendidikan Agama Islam kelas VII tentang membiasakan perilaku terpuji. mencakup didalamnya adalah tawaduk, taat, qanaah, dan sabar; zuhud dan tawakal untuk aspek akhlak kelas VIII, atau qana’ah dan tasamuh, beriman kepada qada dan qadar untuk kelas IX. Apa keterkaitan materi ini dengan “pendidikan cincin api?”. Jawabanya jelas, memberikan landasan keimanan dan kesiapan mental religius yang mendampingi pengetahuan ilmiah.

Syaratnya, pendidikan agama harus terbuka dan lebih realistis; bahwa agama bukan sekedar ritual dan aspek-aspek fiqhiyah. Agama harus juga kita sadari sebagai bagaimana kita menjalani hidup, cara berpikir, juga cara bersikap. Dari sinilah kesiapan untuk lebih mensyukuri rahmat tuhan bumi Indonesia akan menuntun kesadaran ini. Di SMA kita mendapati materi Husnudzan pada aspek akhlak. Kompetensi dasarnya menyebutkan pengertian perilaku husnuzhan, menyebutkan contoh-contoh perilaku husnuzhan terhadap Allah, diri sendiri dan sesama manusia, dan membiasakan perilaku husnuzhan dalam kehidupan sehari-hari. Mensyukuri bumi Indonesia dengan kesadaran husnudzan (berbaik sangka) kepada Allah memberi bekal keimanan atas kesadaran ini, bahwa Tuhan memberikan kesuburan kepada bangsa Indonesia melalui taburan cincin api.

Konsep syukur bahkan bisa kita temukan dalam materi pelajaran kelas 1 SD. Menunjukkan ciptaan Allah melalui ciptaan-Nya. Pondasi keimanan ini terkait erat dengan kekuasaan Allah.

Model integrasinya beragam. “Pendidikan cincin api” bisa bersifat hidden curiculum, artinya dia tidak ada di atas kertas silabus, namun hal tersebut bisa diajarkan di dalam pembelajaran. Dengan ini diharapkan memberi pemahaman yang lengkap tentang cincin api bumi Indonesia ditinjau dari berbagai aspek dan sudut pandang, dari sisi ilmiah yang tewakili ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dan seterusnya termasuk pendidikan agama sehingga memunculkan kesadaran dan kesiapan kita hidup di bumi indonesia dengan segala potensi positif dan dampak negatifnya. Sekalilagi, syaratnya, kita harus menyadari bahwa agama bukan hanya ritus semata. Meski ini hanya contoh, saya rasa cukup aplikatif.

Ilmu Pengetahuan Alam Biologi

Kita berangkat dari SMA; memahami manfaat keanekaragaman hayati. Standar Kompetensi ini berisi kompetensi dasar: mendeskripsikan konsep keanekaragaman gen, jenis, ekosistem, melalui kegiatan pengamatan; mengkomunikasikan keanekaragaman hayati Indonesia, dan usaha pelestarian serta pemanfaatan sumber daya alam. Materi ini tentu tidak cukup sekedar membaca peta tipe keanekaragaman flora Indonesia, membaca peta tipe keanekaragaman fauna Indonesia menurut Wallace dan Weber, mendeskripsikan ciri-ciri bioma yang ada di Indonesia, mengumpulkan informasi berbagai jenis flora dan fauna Indonesia yang terancam kepunahan dan dilindungi, mengumpulkan informasi berbagai cara konservasi untuk melindungi flora dan fauna dari kepunahan, namun juga peranan dan arti penting keanekaragaman hayati bagi manusia. Disinilah kata kuncinya, mengenal alam Indonesia dan kehidupan hayati didalamnya.

Di SMP kita menemukan hal yang lebih mendasar: memahami gejala-gejala alam melalui pengamatan, dan memahami saling ketergantungan dalam ekosistem dengan melaksanakan pengamatan objek secara terencana dan sistematis untuk memperoleh informasi gejala alam biotik dan abiotik; menjelaskan sifat saling ketergantungan antara komponen-komponen dalam ekosistem, dan ketergantungan antara komponen biotik dan abiotik. Demikian; lengkaplah pengetahuan tentang sumber daya alam hayati.

***

Dari kurikulum pendidikan di Indonesia seharusnya kita telah bisa menyaksikan pengetahuan masyarakat yang lengkap tentang bumi Indonesia. Pendidikan agama memberi pondasi keimanan dan kesiapan mental, ilmu pendidikan alam dan sosial memberikan penjelasan ilmiah yang mendukungnya. Kita belum melihat pelajaran sejarah, fisika, sosiologi, dan ekonomi, atau materi pelajaran lain yang bisa diintegrasikan dengan “pendidikan cincin api,” ini. Kita baru melihat pada pelajaran yang menjadi tumpuan utama pengetahuan ini, yang terwakili dalam Ilmu Pengetahuan Alam, Geografi, dan Pendidikan Agama. Kita juga belum menggali potensi dari pendidikan non formal dan informal dalam peransertanya memberikan pemahaman kepada bangsa Indoensia.

Perlu pula disadari, semuanya tidak ada yang berdiri sendiri; namun berhubungan satu sama lain. Jika kita memberikan pemahaman yang utuh mengenai hal ini, kita memiliki kesiapan dan kesadaran penuh akan potensi dan sisi negatif bumi Indonesia. Saya Ahmad Farid Mubarok, sudah terverivikasi :) , mahasiswa Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Santri Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta. Dari background dunia pendidikan, saya optimis Pendidikan Agama bisa ikut berperan. Dan saya juga optimis pendidikan non formal dan informal mampu berperan. Tulisan ini dan tulisan saya sebelumnya, Cincin Api: Integrasi Kurikulum di Indonesia (1) berusaha menjawab permasalahan ini.

Jika kita telah sepakat bahwa pendidikan berperan besar dalam peningkatan pemahaman masyarakat untu mencegah dan meminimalisir dampak dari bencana; sudah saatnya kita berbenah.[]

Tulisan ini sebelumnya diposting di Kompasiana.

buat anda yang akrab dengan dunia desain tentu mengenal produk adobe seperti adobe photoshop, atau yang suka utak-atik flash pasti mengenal adobe flash. atau jika anda tidak mengenal keduanya, saya percaya pasti anda mengenal adobe reader. file berekstensi PDF adalah milik adobe.

itu satu, yang satunya lagi yang akan saya tulis disini adalah typekit. buat anda yang memiliki blog di wordpress pasti menganalnya. typekit itu situs yang memungkinkan kita merubah jenis font pada blog kita terutama blog pada wordpress.com. membuat web lebih indah, mudah dibaca, dan cepat; seperti visi typekit. typekit sebuah layanan yang diluncurkan pada bulan september, 2009 yang memungkinkan webmaster dan desainer untuk menanamkan font tertentu nyang “on-sistem-non-standar”, ke dokumen online (referensi: wikipedia) dan termasuk blog. hanya saja karena layanan ini berlangganan -artinya harus bayar untuk bisa mengubah-ubah font di wordpress, maka saya tidak pernah menggunakannya. tapi saya kenal typekit.

kabarnya pada 3 oktober 2011, adobe mengakuisisi typekit. saya baru mengetahuinya hari ini setelah mendapat email dari the typekit team via newsletter@typekit.com. lalu saya menduga-duga jika typekit sekarang dimiliki adobe, lalu bagaimana kabar typekit di wordpress? masih bisakah kita mengganti font di wordpress?

tapi bagusnya kekhawatiran saya tidak terjadi, bahwa dengan menjadi milik adobe dan typekit hanya untuk adobe. ternyata tidak. typekit akan tetap menjadi produk mandiri, serta menjadi bagian penting dari adobe creative cloud. link siaran pers adobe: http://www.adobe.com/aboutadobe/pressroom/pressreleases/201110/AdobeAcquiresTypekit.html

“typekit sekarang melayani hampir tiga miliar font per bulan pada lebih dari satu juta situs yang berbeda, termasuk beberapa merek yang paling diakui di web,” kata tim typekit dalam email newsletter tersebut sambil mengisahkan nostalgia perjalanan perusahaannya sejak mulai tumbuh hingga besar seperti sekarang ini. “kami tuan rumah tipografi ikonik dari new york times, vanity fair, dan new yorker. kami menempa tanah baru dengan web-asli perusahaan seperti zynga, twitter, dan jaringan gawker. dan kami membuat font web yang tersedia secara luas, menawarkan integrasi dengan platform seperti about.me, wordpress.com, posterous, dan behance. dan itu hanya goresan permukaan: blog kita penuh dengan contoh tipografi paling inovatif di web hari ini – semua didukung oleh typekit,” tambahnya.

mungkin typekit semacam tipografi kita mengenalnya. suatu ilmu dalam memilih dan menata huruf dengan pengaturan penyebarannya pada ruang-ruang yang tersedia, untuk menciptakan kesan tertentu, sehingga dapat menolong pembaca untuk mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin (referensi: wikipedia).

emm… font di kompasiana termasuk sudah enak untuk dibaca belum yah?.[] Tulisan ini sebelumnya diposting di Kompasiana.