MAKKI DAN MADANI

PENDAHULUAN

Mencermati ketertarikan para ulama dalam menyelidiki ayat demi ayat, surah demi surah untuk kemudian ditertibkan sesuai dengan sebab, waktu dan tempat nuzulnya, memberikan kita akan sebuah pandangan akan penyelidikan ilmiah dan objektif terhadap ayat-ayat Al Qur’an. Kajian Al Qur’an tidak dapat lepas dari faktor yang melatar belakangi turunnya dan setting masyarakat Arab saat itu. Dalam kajian hukum Islam ini penting untuk melihat bagaimana Islam menyikapi umat yang berbeda-beda; juga untuk mengetahui mana ayat yang lebih dahulu turun dan mana yang kemudian, untuk di Nasakh[1] apabila terdapat dua ayat yang maknanya berlawanan. Dalam kajian Dakwah, penting untuk melihat bagaimana Islam berdakwah dengan cara yang berbeda-beda pada masyarakat yang berbeda, sebagaimana kita menyaksikan bagaimana Islam berdialog dengan cara yang berbeda terhadap masyarakat Musyrikin Makkah, Ahli Kitab, kaum Munafik, dan sebagainya. Dalam kajian sejarah, menjadi penting untuk melihat arah dakwah pada permulaan pertumbuhan Islam,

Di Makkah, Islam membela dirinya hanya dengan bertahan. Ketika keluar ke Madinah, Islam membela dirinya dengan menyerang. Selama beberapa tahun yang dihabiskan Muhammad di Makkah, tidak seorangpun umat Islam yang mengangkat senjata untuk membela agama Allah. Ketika mereka telah keluar ke Madinah, umat Islam mulai mengangkat senjata dan menghadapi peperangan. Islam mulai mengangkat senjata sebagaimana ia pernah menanggung luka.[2] Perubahan sikap Islam ini adalah atas petunjuk Tuhan. Misalnya kita melihat pada perubahan sikap Islam atas komitmen koalisi elemen-elemen masyarakat madinah untuk melindungi kota tersebut dari ancaman luar, dan menjadi tegas setelah terjadi penghianatan, musuh dalam selimut di dalam kota Madinah.

Kajian historis Al Qur’an dengan mencoba mempelajari sebab-turunnya (asbabun-nuzul), waktu dan tempat turunnya apakah di Makkah sebelum hijrah nabi atau di Madinah pasca hijrah mengartikan bahwa ayat-ayat Al Qur’an turun dalam konteks ruang dan waktu masyarakat Arab saat itu. Dengan demikian penggolongan ayat-ayat Al Qur’an kedalam Makki-Madani mengartikan makna lebih dari sekedar pemisahan tempat/waktu turunnya ayat-ayat Al Qur’an tersebut, tapi mengartikan juga situasi dan kondisi apa yang terjadi masyarakat, setting masyarakat tempat turunnya Al Qur’an.

Makki dan madani adalah pengklasifikasian ayat-ayat dan surat-surat dalam al-Qur’an berdasarkan waktu, tempat, dan sasaran penurunannya. Apakah surat tersebut turun di Makkah, atau turun seteleh hijrahnya nabi Muhammad saw ke Madinah. Apakah ayat-ayat tersebut diturunkan untuk masyarakat Makkah atau untuk masyarakat Madinah. Dengan metode ini dapat diketahui aspek turunnya al-Qur’an (asbabun-nuzul), mengapa ayat tersebut turun dan adakah keterkaitan latar belakang antara turunnya al-Qur’an dengan peristiwa-peristiwa pada saat itu (pendekatan historis).

Makalah ini akan menguraikan penjelasan mengenai Maki dan Madani. Semoga dapat menambah khasanah pembendaharaan ilmu. Diajukan kepada Ma’had Aly Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta untuk memenuhi tugas mata kuliyah Ulumul Qur’an. Semoga bermanfa’at khususnya bagi penulis, dan kepada para pembaca sekalian pada umumnya. Amien ya Rabb.

 

Ahmad Farid Mubarok dan Nandang Kusdiana

 

MAKKIYAH DAN MADANIYAH

Dalam Al Qur’an terdapat dua puluh surah yang digolongkan kedalam Madaniyah, yaitu Al-Baqarah, Ali ‘Imran, An-Nisa’, Al-Maidah, Al-Anfal, At-Taubah, An-Nur, Al-Ahzab, Muhammad, Al-Fath, Al-Hujurat, Al-Hadid, Al-Mujadalah, Al-Hasyr, Al-Mumtahannah, Al-Jumu’ah, Al-Munafiqun, At-Talaq, At-Tahrim, dan An-Nasr. Sedang yang diperselisihkan apakah termasuk surah Makki atau Madani ada dua belas surah, yaitu: Al-Fatihah, Ar-Ra’d, Ar-Rahman, As-Saff, At-Taghabun, At-Tatfif, Al-Qadar, Al-Bayyinah, Az-Zalzalah, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas. Selain yang disebutkan di atas adalah surah Makki yaitu berjumlah delapan puluh dua surah.

It was revealed in Makkah and Madinah and their environs – hence the characterization of its suwar as makki or Madani – several verses at a time. Except for the first few revealtion, which took the prophet Muhammad completely by surprise, each of the revelations had a situational, context to which it spoke. Most of these, if not all, are known to scholars as asbab al nuzul (the situational cause of revelation).[3]

Dilihat dari segi jumlahnya ayat-ayat makkiyah lebih banyak dibanding dengan ayat madaniyah. Dari ayat-ayat al-Qur’an yang berjumlah 6.236 itu, ayat-ayat makkiyah berjumlah 4.726 ayat, sedangkan ayat-ayat madaniyah berjumlah 1.518 ayat. Ini bearti bahwa tiga perempat dari jumlah ayat-ayat al-Qur’an adalah makkiyah[4].

 

A. Faedah Mengetahui Makki dan Madani

 

Perhatian para ulama terhadap historisitas Al Qur’an sangat cermat. Selain dengan menertibkannya surah-surah sesuai waktu dan tempat turunnya, para ulama memisahkannya ayat-ayat yang diturunkan di musim panas dengan yang diturunkan di musim dingin[5], antara yang diturunkan di rumah atau saat menetap dengan yang diturunkan dalam perjalanan[6], dan bahkan lebih cermat lagi membedakan antara yang diturunkan di malam hari[7] dengan yang diturunkan siang hari. Pengantar ini penting untuk memberikan gambaran bahwa Makki dan Madani bukanlah satu-satunya bahan kajian dimana ayat-ayat Al Qur’an dikelompok-kelompokkan. Masing-masing memiliki faedahnya. Berikut adalah beberapa faedah mengetahui Makki dan Madani:

Pertama, Pengetahuan tentang Makki dan Madani diperlukan dalam menafsirkan Al Qur’an, sebab dengan pengetahuan mengenai waktu dan tempat turunnya ayat dapat memahami suatu ayat dan menafsirkannya dengan tafsiran yang benar. Nasikh dan Mansukh didasarkan pada pengetahuan tentang hal ini bila diantara dua ayat terdapat makna yang kontradiktif[8], maka yang datang kemudian tentu merupakan nasikh atas yang terdahulu.

Kedua, Meresapi gaya bahasa Qur’an dan memanfaatkannya dalam metode berdakwah menuju jalan Allah, sebab setiap situasi mempunyai bahasa tersendiri. Memperhatikan apa yang dikehendaki oleh situasi merupakan arti paling khusus dalam ilmu retorika. Hal yang demikian Nampak jelas dalam berbagai  cara Qur’an menyeru berbagai golongan: orang yang beriman, yang musyrik, yang munafik dan Ahli Kitab.

Ketiga, mengetahui sejarah Islam pada masa-masa awal dan sejarah hidup nabi sejak wahyu yang pertama turun hingga wahyu terakhir yang turun. Sejarah merupakan upaya penafsiran terhadap berbagai peristiwa setelah memeriksa fakta-fakta dan menyelidiki kronologi fakta-fakta itu.[9] Dan khas Al Qur’an dalam menceritakan sejarah umat-umat terdahulu, sebagaimana dikatakan Afzalur Rahman, peristiwa sejarah dilukiskan apa adanya oleh Al Qur’an untuk kemudian dinilai. Kemampuan mereka ditimbang dan dievaluasi dengan ukuran dan standar Ilahi.[10] Dalam masa-masa awal kita mengenal beberapa penulis-penulis sejarah dan ahli-ahli sejarah dikalangan muslim seperti Ibnu Khaldun, Al-Mas’udi, Miskawaih, Ibn Khalliqan, Al-Biruni, Al Maqrisi, Ibn Asakir, Ibn Ishaq, dan At Thabari.

Keempat, mnegetahui sejarah periwayatan hukum Islam (tarikhul tasyri’) yang begitu bijaksana dalam menetapkan perkara-perkara; mengetahui hikmah disyari’atkan suatu hukum (hikmatul tasyri) seperti contohnya hikmah diharamkannya khamr secara perlahan lahan.

 

B. Perbedaan Makki dan Madani

 

Pandangan terhadap pembedaan Makki dan Madani beragam diantara para ulama. Untuk membedakan Makki dan Madani para ulama mempunyai tiga macam pandangan yang masing-masing mempunyai dasarnya sendiri. Pertama, Makki dan Madani dibedakan berdasarkan dari segi waktu turunnya. Kedua, dari segi tempat turunnya. Ketiga, dari segi sasarannya.

 

1.      Dari Segi Waktu Turunnya

Pembagian Makki-Madani berdasarkan segi waktunya disebut juga Teori Mulahadhatun Zaman an-Nuzul (teori Historis), yaitu teori yang berorientasi pada sejarah dan waktu turunnya Al Qur’an. Yang dijadikan tonggak sejarah oleh teori ini adalah hijrah nani Muhammad dari Makkah ke Madinah.[11]

Makki adalah yang diturunkan sebelum hijrah, meskipun bukan di Mekkah. Madani adalah yang diturunkan sesudah hijrah sekalipun bukan di Madinah. Dengan demikian ayat-ayat atau surah yang diturunkan sesudah hijrah sekalipun di Mekkah atau di Arafah, adalah digolongkan kedalam ayat-ayat Madaniah, seperti yang diturunkan pada tahun penaklukan kota mekkah, atau yang diturunkan pada saat haji wada’:

 

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتَمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلِإِ سْلَامَدِ يْنًا – الماءِدة

 

“Hari ini telah aku sempurnakan agamamu, telahku cukupkan kepadamu nikmatku dan telahku ridoi Islam menjadi Agamamu.” (Al-Maidah:3)

 

Berdasarkan pembagian pertama ini ayat tersebut digolongkan kedalam ayat Madani karena turun setelah hijrah nabi ke Madinah.

 

2.      Dari Segi Tempat Turunnya

Pembagian Makki-Madani berdasarkan tempat turunnya disebut juga teori Mulahadhatu Makan an-Nuzul (teori geografis), yaitu teori yang berorientasi pada tempat turunnya ayat Al Qur’an.[12] Dengan demikian yang dimaksud dengan Makkah adalah kota Makkah dan kawasan sekitarnya, termasuk Arafah, Mina, dan Hudaibiyah; Madinah adalah kota Madinah dan kawasan sekitarnya seperti Badar, Quba, Uhud, dll.

Pendapat ini mengakibatkan tidak adanya pembagian yang tegas, sebab yang turun dalam perjalanan seperti  di Tabuk atau di Baitul Maqdis tidak termasuk kedalam salah satu bagiannya. Seperti surat Fat yang turun dalam perjalanan, dan Az-Zukhruf: 45 turun di baitul maqdis pada malam isra, sehingga tidak bisa dinamai Makki ataupun Madani. Pembagian dari segi tempat turunnya juga mengakibatkan bahwa ayat-ayat/ surat yang diturunkan di Makkah sesudah hijrah nabi ke Madinah disebut Makkiah.

 

3.      Dari Segi Sasarannya

Pembagian Makki-Madani berdasarkan sasarannya disebut juga teori Mulahadhatu Mukhtabin fi an-Nuzul (teori subjektif), yaitu teori yang berorientasi pada subjek siapa yang dipanggil atau ditiru oleh ayat itu.[13]

Makki adalah yang seruan yang ditujukan kepada penduduk Makkah, dan Madani adalah seruan yang ditujukan kepada penduduk Madinah. Berdasarkan pendapat ini, al-Qur’an yang mengandung seruan ya ayyuhan nass (wahai manusia) adalah Makki, sedang ayat yang mengandung seruan ya ayyuhalladziina aamanuu (wahai orang-orang yang beriman) adalah Madani. Namun kebanyakan surah al-Qur’an tidak selalu dibuka dengan salah satu seruan ini. Jumlah ayat yang dimulai dengan nida’ atau panggilan hanya 551 dari 6236 ayat atau sekitar 8,19 %.

 

4.      Dari Segi Konten/Isi

Teori Mulahadhatu ma tadhammanat as-Suratu (teori content analysis), yaitu suatu teori yang mendasarkan kriteria dalam membedakan makiah dan madaniah kepada isi daripada ayat/surat yang bersangkutan.

 

C. Menentukan Makki dan Madani

 

Pertama,Sima’i Naqli” (pendengaran seperti apa adanya). Cara ini didasarkan pada riwayat shahih dari para sahabat yang hidup pada saat wahyu tutun dan menyaksikan turunnya wahyu, atau dari para tabi’in yang menerima dan mendengar dari para sahabat. Sebagian besar penentuan Makki dan Madani didasarkan cara pertama ini.

 

Kedua, QIyasi Ijtihadi (Kias hasil Ijtihad). Cara ini didasarkan pada cirri-ciri Makki dan Madani. Dengan demikian, apabila dalam surah Makki terdapat suatu ayat yang mengandung sifat Madani atau mengandung peristiwa Madani, maka dikatakan bahwa ayat tersebut Madani[14]. Dan apabila dalam surah Madani terdapat suatu ayat yang mengandung sifat makki atau mengandung peristiwa Makki, maka ayat tersebut disebut ayat Makki[15]. Bila dalam satu surah terdapat cirri-ciri Makki maka surah tersebut disebut surah Makki dan apabila dalam satu surah terdapat cirri-ciri Madani maka surah tersebut disebut surah Madani.

Dengan menamakan sebuah surah itu Makiah atau Madaniah tidak berarti bahwa surah tersebut seluruhnya Makiah atau Madaniyah, sebab dalam surah Maddaniah terdapat ayat-ayat Makkiah. Dengan demikian penamaan surah Makkiah atau Madaniah adalah menurut sebagian besar ayat-ayat yang terkandung didalamnya. Terdapat pula ayat yang diturunkan di makkah tetapi hukumnya Madani[16], dan ayat yang diturunkan di Madinah tetapi hukumnya Makki[17].

 

D. Ciri-ciri khas Makki dan Madani

Para ulama telag meneliti surah-surah makki dam madani; dan menyimpulkan beberapa ketentuan analogis bagi keduanya, yang menerangkan ciri-ciri khas gaya bahasa dan persoalan-persoalan yang dibicarakannya. Dari situ mereka dapat menghasilkan kaidah-kaidah dengan ciri-ciri tersebut.

 

1.      Ciri Khas Berdasarkan Tema.

Pertama, Ketentuan Makki dan Ciri khas Temanya . Digolongkan kedalam surah makki setiap surah yang didalamnya mengandung `sajdah`; setiap surah yang mengandung lafal ` kalla`, lafal ini hanya terdapat dalam separuh terakhir dari Qur`an dan di sebutkan sebanyak tiga puluh tiga kali dalam lima belas surah; setiap surah yang mengandung yaa ayyuhan naas dan tidak mengandung yaa ayyuhal ladzinaa amanuu, kecuali surah al-Hajj yang pada akhir surah terdapat ayat yaa ayyuhal ladziina amanuur ka`u wasjudu namun sebagian besar ulama berpendapat bahwa ayat tersebut adalah makki; setiap surah yang menngandung kisah para nabi umat terdahulu adalah makki, kecuali surah baqarah; setiap surah yang mengandung kisah Adam dan iblis adalah makki, kecuali surat baqarah; setiap surah yang dibuka dengan huruf-huruf singkatan seperti alif lam mim, alif lam ra, ha mim dll, adalah makki. Kecuali surah baqarah dan ali-imran, sedang surah Ra`ad masih diperselisihkan.

Kedua, Ketentuan Madani dan Ciri Khas Temanya. Digolongkan kedalam surah madani setiap surah yang berisi kewajiban atai had ( sanksi ); setiap surah yang didalamnya disebutkan orang-orang munafik adalah madani, kecuali surah al-ankabut adalah makki; setiap surah yang didalamnya terdapat dialog dengan ahli kitab adalah madani.

 

2.      Ciri Khas Berdasarkan Gaya Bahasa.

Pertama, Ketentuan Makki dan Ciri khas tema dan gaya bahasa. Digolongkan kedalam Surah Makki pada surah yang berisi ajakan kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian mengenai risalah, kebangkitan dan hari pembalasan, hari kiamat dan kengeriannya, neraka dan siksanya, surga dan nikmatnya, argumentasi dengan orang musyrik dengan menggunkan bukti-bukti rasional dan ayat-ayat kauniah; berisi peletakan dasar-dasar umum bagi perundang-undangan dan ahlak mulia yang menjadi dasar terbentuknya suatu masyarakat, dan penyingkapan dosa orang musyrik dalam penumpahan darah, memakan harta anak yatim secara dzalim. Penguburan hidup-hidup bayi perempuan dn tradisi buruk lainnya; penyebutkan kisah para nabi dan umat-umat terdahulu sebagai pelaran bagi mereka sehingga megetahui nasib orang yang mendustakan sebelum mereka, dan sebagai hiburan buat Rasulullah SAW sehingga ia tabah dalam mengadapi gangguan dari mereka dan yakin akan menang; suku katanya pendek-pendek disertai kata-kata yang mengesankan sekali, pernyataannya singkat, ditelinga terasa menembus dan terdengar sangat keras. Menggetarkan hati, dan maknanya pun meyakinkan dengan diperkuat lafal-lafal sumpah, seperti surah-surah yang pendek-pendek . dan perkecualiannya hanyasedikit.

Kedua, Ketentuan Madani dari segi ciri khas, tema dan gaya bahasa. Digolongkan kedalam surah madani setiap surah yang menjelaskan ibadah, muamalah, had, kekluargaan, warisan, jihad, hubungan sosial, hubungan internasiaonal baik diwaktu damai maupun perang, kaidah hukum dan masalah perundang-undangan; berisi seruan terhadap ahli kitab, dari kalangan yahudi dn nasrani. Dan ajakan kepada mereka untuk masuk Islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka, terhadap kitab-kitab Allah, permusuhan mereka terhadap kebenaran, dan perselisihan mereka setelah ilmu datang kepada mereka karena rasa dengki diantara sesama mereka; menyingkap perilaku orang munafik, menganalisi kejiwaannya, membuka kedoknya dan menjelaskan bahwa ia berbahaya bagi agama; suku kata dan ayat-ayatnya panjang-panjang dan dengan gaya bahasa yang memantapkan syariat serta menjelaskan tujuan dan sasarannya.

 

KESIMPULAN

 

Al-Qur’an diturunkan di makkah dan madinah serta dilingkungan keduannya, krena itu surah-surahny berkarakter mekkah dan madinah kecuali untuk beberapa wahyu pertama. Masing- masing wahyu memiliki konteksituasi, bagaimana ia dibicarakan. Kebanyakan konteks ini walaupun tidak semuanya oleh cendekiawan dikenal seebagai Asbabun-nuzul (sebab situasional turunnya wahyu).

Pembagian al-Qur’an makkiyah dan madaniyah ada empat teori: Pertama Teori Mulahadhatun Zaman an-Nuzul (teori Historis). Kedua Teori Mulahadhatu Makan an-Nuzul (teori geografis). Ketiga teori Mulahadhatu Mukhtabin fi an-Nuzul (teori subjektif). Keempat teori Mulahadhatu ma tadhammanat as-Suratu (teori content analysis). Cara menentukan makki dan madani ada dua: Pertama dengan cara Sima’i Naqli” (pendengaran seperti apa adanya). Kedua dengan cara Qiyasi Ijtihadi (Kias hasil Ijtihad).

 

DAFTAR PUSTAKA

1.      Manna’ Khalil Al Khattan, studi Ilmu-ilmu Qur’an, terj. Muzakir AS, Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 2006.

2.      Bahjat Ahmad, Nabi-nabi Allah, terj. Muhtadi Kadi dan Muthofa Sukawi, Jakarta: Qisthi Press, 2007.

3.      Isma’il R. Al faruqi and Louis lamya Al faruqi, the culture atlas of Islam, New York: MacMillan publishing Company, 1986.

4.      Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosa Kata, ed. Sahabuddin (et al), Jakrta: Lentera Hati, 2007.

5.      Afzalur Rahman, terj. Taufik Rahman, Ensiklopediana Ilmu dalam Al-qur’an: Rujukan Terlengkap Isyarat-Isyarat Ilmiah dalam Al qur’an, Jakarta: Mizan, 2007.

6.      Afzalur Rahman, terj. Taufik Rahman, Ensiklopediana Ilmu dalam Al-qur’an: Rujukan Terlengkap Isyarat-Isyarat Ilmiah dalam Al qur’an, Jakarta: Mizan, 2007.

7.      Fajrul Munawir et. Al, Al Qur’an; Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan kalijaga, 2005.

8.      Lihat Fajrul Munawir et. Al, Al Qur’an; Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan kalijaga, 2005.

 


[1] Secara bahasa berarti izalah (menghilangkan), memindahkan sesuatu dari suatu tempat ke tempat lain. Menurut isrilah berarti mengangkat (menghapuskan) hokum syara’ dengan dalil hokum (khitab) syara’ yang lain. Dengan perkataan “hokum”, maka tidak termasuk dalam pengertian nasakh menghapuskan “kebolehan” yang bersifat asal (al-bara’ah al-asliyah). Dan kata-kata “dengan khitab syara’” mengecualikan pengangkatan (penghapusan) hokum disebabkan mati atau gila, atau penghapusan dengan ijma’ atau qiyas. Lihat. Manna’ Khalil Al Khattan, studi Ilmu-ilmu Qur’an, terj. Muzakir AS, Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 2006. Hlm 326-327.

[2] Ahmad Bahjat, Nabi-nabi Allah, terj. Muhtadi Kadi dan Muthofa Sukawi, Jakarta: Qisthi Press, 2007. Hlm. 623.

[3] Isma’il R. Al faruqi and Louis lamya Al faruqi, the culture atlas of Islam, New York: MacMillan publishing Company, 1986.

[4] Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosa Kata, ed. Sahabuddin (et al), Jakrta: Lentera Hati, 2007. Hlm. 791

[5] Contoh ayat yang turun di musim panas adalah ayat tentang kalalah yang terdapat di akhir surah An-Nisa’. Contoh lain adalah ayat-ayat yang turun dalam perang Tabuk yang terjadi pada musim panas yang berat sekali seperti dinyatakan dalam qur’an. QUr’an menceritakan kata-kata kaum munafik: “Mereka berkata: Janganlah berangkat perang dalam panas terik ini….” (An-Nisa’ [4]: 176).

[6] Kebanyakan ayat Al-Qur’an turun diwaktu menetap, tapi terdapat beberapa ayt yang turun dalam perjalanan seperti awal surah Al-Anfal yang turun di Badar setelah selesai perang, Q.S. At Taubah [9]: 34 dan awal surah Al Hajj ayat 1-2 yang turun dalam perjalanan. Surah Al-Fath turun di antara Makkah dan madinah mengenai soal Hidaibiyah.

[7] Kebanyakan Ayat Al-Qur’an itu turun pada siang hari. Ayat-ayat yang diturunkan pada malam hari seperti bagian-bagian akhir surah Ali ‘Imran. Ibn Hibban dalam kitab Shahih-nya, Ibnul Munzir, Ibn Mardawaih dan Ibn Abud Dunya, meriwayatkan dari Aisyah r.a: “Bagaimana saya tidak menangis padahal tadi malam diturunkan kepadaku, “Sesungguhnya pada penciptaan…” (Ali-Imran [3]: 190”. Contoh lain adalah ayat mengenai tiga orang yang tidak ikut berperang. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim terdapat hadits Ka’ab: “Allah menerima taubat kami pada sepertiga malam yang terakhir”. Contoh lainnya ialah awal surah Al-Fath. Dalam Shahih Bukgari terdapat hadits Umar: “Telah diturunkan kepadaku pada mala mini sebuah surah yang lebih aku sukai daripada apa yang disinari matahari.”

[8] Misalnya QS. Al Baqarah [2]:155, “Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah.” Dinasakh oleh QS. Al Baqarah [2]: 144, “Maka Palingkanlah mukamu kea rah masjidil Haram”.

[9] Afzalur Rahman, terj. Taufik Rahman, Ensiklopediana Ilmu dalam Al-qur’an: Rujukan Terlengkap Isyarat-Isyarat Ilmiah dalam Al qur’an, Jakarta: Mizan, 2007. Hlm. 145

[10] Afzalur Rahman, terj. Taufik Rahman, Ensiklopediana Ilmu dalam Al-qur’an: Rujukan Terlengkap Isyarat-Isyarat Ilmiah dalam Al qur’an, Jakarta: Mizan, 2007. Hlm. 141

[11] Lihat Fajrul Munawir et. Al, Al Qur’an; Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan kalijaga, 2005. Hlm 19.

[12] Lihat Fajrul Munawir et. Al, Al Qur’an; Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan kalijaga, 2005. Hlm 14.

[13] Ibid, hlm. 16

[14] Ayat-ayat Madaniah dalam surah Makiah misalnya surah Al An’am. Ibn Abbas berkata: “Surah ini diturunkan sekaligus di makkah, maka ia Makkiah kecuali tiga ayat diturunkan di Madinah, yaitu ayat: Katakanlah: Marilah aku bacakan…” sampai dengan ketiga ayat itu selesai (Al-An’am [6]: 151-153).  Dan surah Al Hajj adalah Makiah kecuali tiga ayat diturunkan di Madinah, dari awal firman Allah: “Inilah dua golongan yang bertengkar mengenai Tuhan mereka…” (Al-Hajj [22]: 19-21).”

[15] Ayat-ayat Makiah dalam surah Madaniah misalnya Surah Madaniah Al Anfal yang dikecualikan pada ayat ”Dan (ingatlah) ketika orang kafir membuat maker terhadapmu…” (Al-Anfal [8]: 30) kedalam ayat Makkiah.

[16] Seperti surah Al Hujrat [49]: 13 “Wahai manusia, kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan…” ayat ini diturunkan di makkah pada hari penaklukan kota Makkah, tetapi sebenarnya madinah karena diturunkan setelah hijrah, dan seruannya pun bersifat umum.

[17] Contohnya surah Al-Mumtahanah. Surah ini diturunkan di Madinah dilihat dari segi tempat turunnya, tetapi seruannya ditujukan kepada orang musyrik penduduk makkah. Juga seperti permulaan surah Al-Bara’ah yang diturunkan di madinah tetapi seruannya ditujukan kepada orang-orang musyrik penduduk Makkah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: